
Keheningan diantara kami pecah ketika salah satu teman bertanya, “Akhir-akhir ini aku merasa lebih sensitif, ada gejolak di diriku yang nggak aku kenal tiba-tiba datang, rasanya nggak nyaman banget!”
“Eh, ngomong-ngomong, sudah tiga bulan ini aku nggak kedatangan ‘tamu’. Apa aku udah menopause ya? Apa ini normal ya?”
“Kalian pernah ngerasain gitu nggak?”
Biasanya, obrolan kami berputar seputar anak-anak, kerjaan, atau gossip seru. Tapi malam itu, suasananya berubah. Kami mulai ngobrolin sesuatu yang belum pernah dibahas sebelumnya: perimenopause.
Tentu saja, suasananya jadi agak canggung. Semua jadi bingung dan campur aduk. Tak ada yang bisa menjelaskan pasti apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh mereka saat masa ini datang. Semua merasa ada yang berubah, tapi nggak tahu harus bilang apa. Kamu bisa bayangin, betapa keluhannya seperti mengerjakan teka-teki yang susah banget.
Beberapa teman mengeluh soal hubungan seks dengan pasangan yang nggak lagi seru. Ada yang menyangka itu karena stress di kerjaan, ada juga yang merasa tubuhnya berubah, dan merasa emosi jadi labil. Beberapa bahkan curhat, perasaaan sensitifnya lebih intens dibandingkan dengan PMS biasa.
Itu baru satu sisi. Pasangan yang menghadapi perubahan ini juga ikut bingung, dan siapa yang jadi korban? Anak-anak. Mereka sering menjadi pihak yang nggak sengaja terkena dampak dari ketegangan yang terjadi di rumah. Padahal, itu bukan kesalahan mereka. Masalahnya, kita nggak selalu tahu seberapa besar perasaan ini mempengaruhi orang-orang di sekitar kita, kan?
Sungguh, menjadi pengamat dalam percakapan itu sangat menarik. Aku duduk menyandarkan tubuh pada sofa yang empuk, tanganku bertumpu pada salah satu sisi sofa, sedikit menjauh dari emak-emak yang lagi saling curhat. Takut-takut kalau tiba-tiba mereka geram dan mencubitku, hehehe.
Mulai kuresapi satu per satu keluhan teman-temanku, membayangkan betapa suasana rumah mereka bisa penuh ketegangan. Ternyata, perimenopause memang masa yang tricky. Rasanya bisa bikin penghuni rumah kebingungan, nggak cuma soal tubuh, tapi juga soal emosi. Ini bisa membuat hubungan dengan pasangan, bahkan keluarga, jadi sedikit… kacau.
Dari curhatan mereka, sesekali aku mencocokkan dengan informasi yang aku dapatkan dari beberapa artikel di media dan buku-buku yang sempat aku baca. Aku pun mulai menghitung suara-suara yang bersahutan, tapi tenang, ini bukan hitungan suara di pemilu. Maksudku, menghitung usia mereka—rata-rata memang usia 40-an, usia di mana umumnya fase transisi menuju menopause dimulai. Nah masa transisi inilah yang disebut perimenopause.
Selama periode ini, tubuh akan mulai mengalami perubahan hormonal yang bisa mengubah banyak hal, dari siklus menstruasi yang nggak teratur, sampai perubahan mood yang kadang sulit dijelaskan.
Gejalanya pun beragam di setiap orang, mulai dari rasa panas mendadak, gangguan tidur, mood yang gak stabil, sampai penurunan gairah seksual. Pantesan saja mereka merasa kurang nyaman dengan kondisi ini. Bagi sebagian orang, masa ini bisa terasa berat banget, karena tubuh dan perasaan rasanya kayak nggak bisa dikendalikan.
Dan masalahnya nggak berhenti sampai disitu, bisa berimbas ke pasangan juga! Bener banget, pasangan yang berusaha memahami apa yang sedang terjadi juga bisa dibuat bingung banget. Soalnya, mereka nggak tahu harus mendukung gimana tanpa merasa terlalu ikut campur. Takut kena semprot!
Peran Pasangan dalam Perimenopause
Perimenopause adalah proses alami yang dialami oleh setiap wanita di usia-usia tertentu—cepat atau lambat pasti akan datang. Pasangan yang mendampingi pun perlu belajar menerima perubahan ini. Ini juga berlaku untuk diri sendiri, loh. Misalnya, kalau kamu merasa tubuhmu berubah dan nggak bisa lagi melakukan hal-hal seperti dulu, jangan memaksakan diri, jangan pula marah-marah. Semua perubahan ini bukan berarti ada yang salah denganmu. Justru ini adalah momen untuk lebih mengenal diri sendiri dan menyesuaikan ritme hidup yang baru. Yang penting, jangan merasa kamu harus kembali ke “diri yang lama” atau melakukan segala hal seperti dulu.
Sebagai teman, aku belajar banyak dari beberapa teman yang punya pengalaman baik dalam menghadapi masa perimenopause. Ada yang sangat beruntung banget punya pasangan yang bisa ngobrol terbuka tentang hal ini. Dan memang, hal itu seharusnya dikomunikasikan, supaya perjalanan bisa terasa lebih ringan. Bagaimanapun juga, membuka komunikasi itu jauh lebih menenangkan daripada diam menarik diri dan berharap semuanya kembali normal dengan sendirinya.
Ada seorang teman yang sungguh beruntung memiliki seorang ayah yang memberikan edukasi untuk mempersiapkan dirinya secara mental menghadapi perimenopause sang ibu saat itu. Tidak banyak orang tua yang seterbuka itu. Alhasil, si anak berhasil melewati masa-masa ‘sulit’ tersebut dengan penuh pengertian. Sekarang giliran dirinya yang mengalami, hanya saja dia belum sepenuhnya menyadari itu.
Apa yang dirasakan selalu dihubungkan dengan pekerjaannya: si bos yang bawel, klien yang resek, pasangan yang rewel, bahkan anak-anak pun nggak luput jadi kambing hitam atas segala rasa aneh yang dirasakannya. Semua hal seolah tentang orang lain, sementara telunjuk tak pernah mengarah ke dirinya sendiri yang mungkin menjadi penyebab kekacauan ini. Bukan berarti dia yang salah, loh. Tidak ada yang salah. Ini memang sesuatu yang mesti dilalui— perjalanan biologis tubuh seorang wanita. Semua orang akan mengalaminya, cepat atau lambat.
Menerima Perubahan
Setelah tersadar akan hal itu, teman tersebut akhirnya senyum-senyum sendiri dan berkata jujur bahwa dia belum siap untuk semua ini. Ia masih merasa kesulitan menerima perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Perubahan yang mengharuskannya me-reset segala hal agar semuanya bisa berjalan beriringan kembali, dengan ritme yang berbeda. Sebuah ritme yang disesuaikan.
Ya! Penerimaan—ini adalah salah satu hal terbesar yang bisa kita lakukan. Tak ada yang salah dengan tubuh yang berubah seiring waktu. Ini adalah bagian dari perjalanan hidup, bukan kegagalan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Maya Angelou, “Tidak ada yang lebih indah daripada menjadi diri kita yang sebenarnya.” Begitu juga dengan perimenopause, itu adalah bagian dari diri kita yang lebih bijaksana dan lebih kuat.
Peran Keluarga dan Dukungan Sosial
Selain pasangan, dukungan dari keluarga dan teman-teman juga sangat membantu. Jangan merasa harus menyimpan semuanya sendirian. Yang kamu perlukan hanyalah berbagi cerita, atau bahkan tawa, untuk merasa lebih lega. Apalagi kalau ada yang mengalami hal yang sama, kita bisa saling memberi dukungan dan memberi saran.
Dan kabarnya, pria juga bisa mengalami perubahan hormonal terkait usia yang mirip menopause. Pria bisa jadi lebih sensitif, gampang marah, mood swing, penurunan libido, dan sebagainya. Mirip, kan? Jadi, pasangan wanita yang sedang mengalami perimenopause nggak sendirian kok! Pasangan pria juga bisa ikut merasakan perubahan itu, meski mungkin gak seintens yang dialami wanita.
Jika ada satu hal yang bisa aku ambil dari semua cerita ini, itu adalah penerimaan. Aku jadi ingat pada buku “Selaras” karya Reza Gunawan & Dee Lestari, ada bagian yang membahas tentang perubahan dan penerimaan yang digambarkan bagai mitra abadi sepanjang hidup seseorang. Menerima segala perubahan, menerima dengan ikhlas hal-hal yang sudah nggak seperti dulu. Menerima bukan berarti menyerah pasrah, melainkan dengan segala upaya untuk melakukan penyesuaian agar bisa berjalan kembali dengan kondisi yang baru.
Ingat juga, komunikasi terbuka itu sangat penting agar tidak ada yang merasa sendirian dalam menghadapi perubahan ini. Dengan saling mendukung, perjalanan ini bisa terasa lebih ringan, dan kita bisa melalui setiap perubahan dengan lebih bijak bersama-sama.

