
Puding mangga yang ke-2 ini mungkin saja bisa menghapus segala kegundahan hatiku, segera kunikmati tekstur lembutnya, manis, segar menyusuri tenggorokanku. Rasa tidak nyaman masih enggan pergi dari benakku, silih berganti muncul bagai deretan materi presentasi yang kubawakan tadi siang. Gambar-gambarpun bermunculan, buram, gelap, sesekali berhasil mengoyak rasa sedihku, entah datang darimana extra slide ini, bayangan itu segera saja menerobos jauh ke dalam, sosok yang pernah hadir di hidupku, “apakah dia menjadi kambing hitam atas semua kejadian yang ku alami?” semua kusalahkan, sungguh mudah menunjuk dalang dari kegundahanku hari itu.
Sudut tenang, aku kembali datang, sekian lama tidak aku hiraukan keberadaan tempatmu. Seperti tersenyum, menyambut kehadiranku dengan aroma dupa memenuhi ruangan. Syahdu, terduduk dan termenung. Dia mulai bertanya, nampak khawatir dengan wajah senduku.
“Kemana kamu selama ini?”
“Mencari nyaman, healing hingga aku pusing” aku tertunduk “tidak ada ujungnya”
Puluhan pertanyaan aku lontarkan, dengan sabar dia menjawab. Jarum jam usang di sudut kamar mengusik, degup jantungku tak ingin kalah, turut menyuarakan keresahannya.
Ruangan hening dalam sekejap, ada yang mengalir perlahan, terasa hangat.. sudah lama tidak merasakan ini. Aku biarkan perasaaan ini menyapu seluruh titik tubuhku. Menghidupkan tombol-tobol kesadaranku, tidak perlu jauh ke kanan atau ke kiri, cukup ke dalam diri. Menemui rasa gundah, mengenali, menemaninya hingga tahu apa yang dia mau.
Sudah saatnya aku kembali ke puding manggaku. Apakah ia masih lembut dan manis seperti yang kukenal? Atau justru menyimpan rasa baru, yang hanya bisa kurasakan jika aku benar-benar hadir untuk menikmatinya.


Tulisanmu mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu saya sudah merasa sangat bahagia ketika diberi hadiah, walaupun bukan sepeda. Bahkan hanya bermain bersama teman-teman saja sudah membuat saya merasa senang dan bebas. Semoga Ibu, Bapak sehat dan panjang umur. Terima kasih disetiap doa untuk ku.
Hi Kakak Juni, Terima kasih sudah berbagi cerita tentang masa kecilnya.
Ada senyum simpul memang ketika mengingat masa-masa itu. Berlarian di pematang sawah, nyemplung ke parit, sampai pulang sore dengan baju penuh tanah. Sederhana memang, tapi momen-momen seperti itu selalu membawa hangat di hati kita hingga saat ini. Saat dewasa seperti sekarang, jangan lupa juga untuk tetap bermain… mungkin bentuknya sudah berbeda, hehe.. bukan lagi petak umpet atau mandi di sungai, tapi memberi waktu untuk tertawa, menikmati sore selepas bekerja, berjalan tanpa buru-buru, atau sekedar menikmati gelato kesukaan. Hal-hal kecil yang membuat hati terasa lepas dan ringan.
Semoga Ibu dan Bapak selalu sehat, panjang umur, dan semoga kita semua tetap bisa menjaga syukur atas hal-hal kecil yang pernah membuat hati kita begitu bahagia.
Sehat-sehat ya…