
“You are never too old to set another goal or dream a new dream.” – C.S. Lewis
Bangun pagi dengan perasaan ringan, semangat yang menyala, dan memandang hari sebagai sebuah peluang—siapa yang tidak mendambakan itu? Namun, kita semua pasti pernah mengalami momen di mana pagi terasa seperti pengulangan saja. Langkah terasa berat, seakan ada pemberat di kaki yang membatasi gerak. Pikiran pun melayang tanpa arah, dan waktu berlalu begitu saja tanpa kita melakukan apa-apa.
Di saat seperti ini, apa yang kita butuhkan? Kita sering terpikir untuk mencari motivasi. Mencari seseorang yang bisa menggerakkan semangat kita, bahkan untuk melangkah sedikit saja. Dalam kondisi lemah seperti itu, kehadiran seorang motivator seakan menjadi penyelamat, memberi secercah cahaya di tengah kelamnya kebingungan.
Aku pun pernah merasakan hal yang sama. Mencari motivasi, aku mengikuti berbagai sesi—baik offline maupun online. Semangat pun terasa terbakar, mata menyala seakan siap untuk bertempur. Semua terasa mudah dan penuh harapan. Tapi, keesokan harinya?
Semangat itu memudar, dan aku kembali terjebak dalam rutinitas yang sama.
Kok bisa ya? Apa yang salah dengan sang motivator? Apa mereka kurang cukup memecut semangatku? Lalu, aku menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak kuketahui: motivator sejatinya hanya memberi dorongan. Urusan untuk bertahan dan terus melangkah adalah tanggung jawab kita. Mereka bisa memantik api, tapi kita yang harus menjaga api itu tetap menyala.
Seiring waktu, aku mulai memahami pesan sebenarnya dari para motivator: mereka ingin kita menemukan sumber kekuatan itu di dalam diri kita sendiri. Dan ternyata, itu bukanlah tugas mereka, melainkan tugas kita untuk menemukannya.
Temukan Tombol yang Ada di Dalam Diri
Bayangkan, setiap kali kita mendengarkan kata-kata motivator, kita seolah diberi petunjuk untuk menemukan tombol yang tersembunyi di dalam diri kita. Tombol yang, ketika ditekan, akan mengaktifkan kekuatan dalam diri kita untuk bergerak, berjuang, dan bertindak sesuai dengan yang kita inginkan dalam hidup ini.
Namun, tombol itu tidak akan muncul begitu saja—tanpa usaha. Dibutuhkan percapakan yang intens dengan diri sendiri, sebuah proses yang tidak selalu mudah. Kita harus menggali lebih dalam untuk benar-benar memahami siapa diri kita, apa yang sebenarnya kita inginkan, dan bagaimana cara kita mencapainya.
Aku sendiri kini menjadi sangat selektif dalam memilih siapa yang bisa menjadi motivator atau mentorku, dan aku rasa mereka juga melakukan hal yang sama. Aku tidak hanya memilih berdasarkan popularitasnya, tetapi lebih pada vibrasi yang aku rasakan. Aku percaya, ketika ada koneksi dengan sang motivator, kata-katanya akan lebih mengena dan mampu memotivasi kita untuk melangkah lebih jauh. Namun, ada satu hal yang perlu diingat: jangan terlalu tergantung pada motivator. Mereka bukanlah sumber utama dari kekuatan kita. Kita harus belajar untuk mengenali bahwa motivator hanyalah pelengkap, bukan mesin utama. Kita perlu menyadari bahwa mereka, seperti kita, juga manusia yang bisa jatuh dan bangkit. Jadi, jangan menganggap mereka sebagai dewa yang sempurna.
Mengapa Terlalu Bergantung pada Motivator Bisa Menyebabkan Kecewa?
Aku pernah mengikuti banyak sesi motivasi. Beberapa diantaranya benar-benar memberi pencerahan dan dorongan, namun ada juga yang malah membuatku merasa kecewa. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah saat aku mengikuti sebuah sesi motivasi di industri keuangan. Aku datang dengan ekspektasi tinggi, berharap mendapatkan pembelajaran yang benar-benar bermanfaat. Di awal sesi, aku merasa diterima, dan semuanya terasa nyambung. Aku mengikuti setiap materinya dengan penuh antusiasme.
Namun, di tengah kelas, motivator tersebut membuat sebuah klarifikasi yang cukup mengejutkan. Sambil melirik ke arahku, ia mulai berbicara tentang gerakan-gerakan yang ia lakukan selama sesi. “Gerakan ini nggak ada hubungannya dengan keseharian saya,” katanya. “Saya hanya menyesuaikan diri dengan audiens di sini.” Celetukan itu disambut tawa riuh dari seisi ruangan, tetapi tidak ada rasa lucu bagiku. Kalimat itu diucapkan tepat setelah sesi permainan, dimana aku adalah salah satu peserta yang dilibatkan.
Tiba-tiba, perasaan yang aku rasakan di awal—rasa diterima dan terhubung—seakan menguap begitu saja. Aku merasa apa yang aku bawa, siapa diriku, tidak cukup diterima dengan tulus. Ini bukan tentang orientasi atau preferensi pribadi, tapi lebih kepada bagaimana sikap sang motivator yang tiba-tiba memberikan klarifikasi, dan diimbuhi dengan kalimat “no offense.” Tapi, aku malah berpikir, kenapa hal seperti itu perlu dikatakan? Bukankah itu justru berpotensi menyinggung?
Situasi ini membuka mataku lebih lebar, menyadarkan aku pada satu hal penting: motivator tidak hanya bisa memberi semangat dengan kata-kata saja. Sikap mereka pun menentukan bagaimana kita merasa dihargai. Ketika koneksi yang kita rasakan mulai hilang, kata-kata motivator pun jadi terdengar hampa. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak berlama-lama di ruangan itu. Tidak ingin membuang waktu lebih banyak, aku melanjutkan perjalanan motiviasiku dengan cara yang lebih selektif—cara yang bisa aku terapkan khusus untuk diriku.
Eksekusi Itu yang Utama
Kehidupan ini penuh dengan strategi, ide, dan saran yang bisa jadi datang dari segala arah termasuk motivator. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita mengeksekusi strategi-strategi tersebut dengan bijak. Tidak semua yang disarankan oleh motivator bisa diterapkan begitu saja dalam hidup kita. Kita harus menyaringnya, menyesuaikan dengan kondisi, dan tujuan hidup kita masing-masing. Ingat, setiap perjalanan itu unik, dan tidak ada satu formula yang cocok untuk semua orang.
Aku merasa bahwa motivasi itu memang penting, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita bisa bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Kekuatan sejati ada di dalam diri kita, dan motivator serta mentor hanya membantu kita untuk menemukan jalan. Selebihnya, kita yang harus menjalani perjalanan itu dengan percaya diri.
Kita adalah motivator utama dalam hidup kita, dan berhak untuk melangkah menuju tujuan kita tanpa perlu bergantung pada orang lain. Ada sebuah lagu yang sering membuat dadaku terasa hangat, Glory of Love oleh Peter Cetera. Meskipun bagi sebagian orang lagu ini dianggap sebagai lagu romantis, entah kenapa aku terhubung dengan cara yang berbeda. Lagu ini sering mengalun merdu di tengah ruanganku, berulang-ulang.
I am a man who will fight for your honor…
I’ll be the hero you’re dreamin’ of
We’ll live forever…knowing together
That we did it all for the glory of love…
Lagu itu seakan mengingatkan aku bahwa kita semua adalah pejuang dalam perjalanan hidup ini, dan kita bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Pada akhirnya, yang kita ajak berjuang bersama adalah diri kita sendiri.
“The only limit to our realization of tomorrow is our doubts of today.” – Franklin D. Roosevelt
Jadi, jangan menunggu motivasi datang dari luar. Temukan semangat itu dalam diri kita sendiri, karena hanya kita yang bisa memberi alasan untuk terus berjuang. Terus bergerak, tanpa terlalu bergantung pada siapa pun selain diri kita sendiri. Yuk, sama-sama kita jaga semangat dan terus melangkah maju!

