Yogyakarta dan Tamparan Kecilnya

“Nanti saja, kalau sudah siap!”

Aku pernah berpikir bahwa memulai sesuatu harus menunggu diri ini benar-benar siap terlebih dahulu. Menunggu lebih percaya diri, lebih berpengalaman, dan menjadi versi diri yang lebih sempurna. Pemikiran ini membuat aku terlalu sibuk mempersiapkan diri sampai lupa bagaimana rasanya benar-benar berjalan. Aku membaca lebih banyak, belajar lebih banyak, memikirkan lebih banyak, tetapi tetap diam di tempat yang sama. Bahkan, semakin lama aku menunggu kesiapan diri, semakin jauh rasanya dari hal-hal yang pernah aku tuliskan dalam catatan goal tahunanku!

Sampai sebuah perjalanan ke Yogyakarta perlahan mengubah cara pandangku tentang kesiapan dan kesempurnaan.

Perjalanan wisataku tahun ini membawa aku kembali ke salah satu kota yang selalu punya tempat khusus di hati: Yogyakarta. Awalnya aku pikir, perjalanan kali ini hanya tentang melepaskan rindu. Saatnya healing sejenak, mengisi ulang energi, lalu pulang dengan kepala dan rasa yang lebih ringan. Aku membayangkan, menyusuri jalanan Malioboro yang kini terasa lebih rapi, menikmati warna hangat matahari terbenam di Candi Ijo, menyeruput kopi hangat di Kopi PakPos, hingga terpingkal-pingkal menyaksikan pertunjukan kabaret di Raminten.

Namun ternyata, perjalanan ini membawa sesuatu yang lebih dari sekadar nostalgia. Ada banyak percakapan, peristiwa, dan pembelajaran yang membuat perjalanan kali ini terasa lebih intens, lebih dalam, dan jauh lebih dewasa dari sebelumnya.

Obrolan ringan dengan Pak Atmaja, driver yang menemaniku selama di Yogyakarta, memberikanku pelajaran hidup yang selama ini aku abaikan. Di tengah perjalanan, ia bercerita bagaimana dulu ia memulai usaha kecilnya demi menyambung hidup keluarga. Tidak ada modal besar, tidak ada pengalaman yang benar-benar matang, bahkan semua terasa nekat. Ia sempat takut usahanya gagal. Pernah bingung harus mulai dari mana, pernah merasa minder karena melihat orang lain tampak lebih siap, bahkan pernah frustasi ketika saudara dan teman-teman satu per satu menghilang di saat ia membutuhkan mereka.

Tapi hidup tidak memberinya banyak waktu untuk menunggu semuanya menjadi sempurna. Istri dan dua anaknya tetap perlu makan, uang sekolah tetap harus dibayar, tagihan tetap berjalan, dan waktu terus bergerak. Jadi ia memilih melangkah dengan apa yang ada.

“Belajar sambil berjalan, Mas” katanya sambil tersenyum kecil dengan logat Yogyakarta yang kental.

“Namanya hidup nggih begitu… dijalani dulu. Nanti sambil dibenerin pelan-pelan.”

Kalimat sederhana itu seperti tamparan halus pada jidatku. Dari satu titik ke titik berikutnya, aku melihat bagaimana hidup benar-benar membentuknya, tanpa pernah menunggu definisi “siap” dan “sempurna” datang lebih dulu.

Hari berikutnya, semesta seperti terus memberiku pembelajaran. Aku dibawa ke kota ini bukan hanya untuk mereguk rindu yang lama terpendam, tetapi juga untuk dihadapkan pada realita-realita yang selama ini terasa bias di kepalaku sendiri.

Sebuah diskusi panjang menjelang subuh memberiku ruang untuk kembali melihat diriku lebih dalam. Melihat segala bentuk penantian yang selama ini aku pelihara. Menunggu lebih siap, menunggu lebih yakin, menunggu waktu yang terasa lebih tepat. Padahal, ternyata ada banyak hal yang bisa aku bagikan, hanya saja selama ini tersimpan rapi di dalam “lemari” versi diriku. Bahkan aku tidak menyangka, hal-hal yang menurutku biasa saja ternyata begitu berarti bagi orang lain.

Tidak berhenti sampai di situ, obrolan-obrolan berikutnya dengan teman-teman baruku selama workshop beberapa waktu lalu juga semakin menjawab pertanyaan – pertanyaan di kepalaku. Perlahan, aku mulai mengartikan kembali definisi “siap” dan “sempurna” yang selama ini aku pegang.

Dari rangkaian peristiwa yang aku alami selama di Yogyakarta, dari deretan candi-candi yang aku kunjungi, udara segar yang aku hirup di perbukitan, tawa lepas Pak Atmaja, hingga “cubitan” kecil seorang sahabat, aku mulai memahami bahwa siap bukan berarti menunggu diri menjadi sempurna. Bukan pula hanya diam menunggu peluang datang menghampiri. Ternyata, menjadi siap bisa dimulai dengan berjalan. Membekali diri, menikmati proses perjalanan, lalu bertumbuh dari setiap langkah yang diambil.  Tidak terpaku hanya pada satu buku atau satu pemahaman,  melainkan lebih terbuka karena ilmu dan kehidupan terus berkembang.

Sambil berjalan, kita mengumpulkan lebih banyak pembelajaran, mengkurasi pengalaman, lalu menjadikannya bekal untuk dibagikan agar bisa lebih bermanfaat bagi orang lain.

Kalau aku pikir-pikir, healing kali ini memang benar-benar berbeda. Setidaknya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama,  aku merasa aku lebih jujur pada diriku sendiri. Jujur kalau aku masih punya banyak kekurangan. Jujur kalau selama ini aku juga banyak melakukan kesalahan. Jujur kalau menjadi manusia memang tidak selalu tentang melakukan sesuatu dengan benar. Dan yang paling penting, jujur kalau aku juga ingin terus memperbaikinya.

Aku sadar, ada bagian dari diriku yang enggan beranjak. Bagian yang ingin terus menunggu sampai semuanya terasa lebih sempurna, sambil mengamati mereka yang lalu lalang di depan. Tapi ternyata, ada bagian yang jauh lebih kuat. Bagian yang mengajakku berjalan tanpa tergesa dan tidak memaksa. Belajar bertanya arah tanpa rasa sungkan, lalu menerima bahwa tersesat sesekali mungkin bagian dari perjalanan.

Mungkin saat ini, kamu juga sedang menunggu sesuatu. Menunggu cinta, menunggu karier, menunggu waktu yang terasa lebih tepat, atau menunggu keberanian untuk merasa lebih siap?

Mungkin selama ini yang benar-benar perlu dilakukan adalah bukan menunggu lebih lama untuk menjadi lebih sempurna, melainkan mengambil langkah kecil walau belum sepenuhnya siap.

Bukankah perjalanan ratusan mil selalu diawali dengan satu langkah kecil?

Dan kalau ternyata langkah kecil itu belum sempurna, tidak apa-apa bukan?

Selama masih ada kesempatan, semuanya masih bisa dipelajari dan diperbaiki. Karena hidup tidak selalu menuntut kita untuk menjadi sempurna terlebih dahulu. Barangkali, keberanian untuk memulai sudah lebih daripada cukup.

Memulai langkah – langkah kecil untuk sesuatu yang besar dan indah.

2 thoughts on “Yogyakarta dan Tamparan Kecilnya”

  1. Tetap berjalan dan terus maju, tak ada kata terlambat, semua orang punya progress nya sendiri sendiri, mari kita sama sama berjuang.. semangattttt !!

    1. Aaa… Setuju Banget! Kadang kita terlalu sibuk membandingkan dengan progress orang lain sampai lupa setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri. Terima kasih sudah mampir dan berbagi semangat. Sehat sehat ya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top