
“You can’t calm the storm, so stop trying. What you can do is calm yourself. The storm will pass.”
— Timber Hawkeye
Seperti berada di tengah badai. Ketika kamu dihadapkan pada situasi kerjaaan di kantor yang menumpuk, email follow up mengular tiada ujung, kepanikan melanda karena deadline sudah mulai rajin mengetuk pintu. Belum lagi notifikasi media sosial yang akhir-akhir ini berdenting semakin nyaring— menggoda untuk dibuka melarutkan kamu ke dalam riuh kehidupan dunia maya.
Situasi rancu bertubi-tubi mengganggu pikiranmu, membuatnya tak beraturan seperti benang kusut yang tercelup genangan air selepas hujan di jalanan. Kamu berpikir, ingin lari saja, tapi mau kemana? Berlari, melupakan kesedihan dan mencari perasaan bahagia, berharap kegalauan itu akan sirna. Tapi kenyataannya, perasaan tidak nyaman sering kali kembali datang menghampiri, dan itu sungguh mengusik kebahagiaanmu.
Banyak orang berbicara tentang mencari kebahagiaan. Kira-kira, menurutmu, kebahagiaan itu apa? Tentunya dengan cepat kamu akan menjawab: setiap orang punya definisi dan standar yang tidak sama.
“Happiness is not something ready – made.
It comes from your own actions.”
Kutipan dari Dalai Lama ini seakan mengajakmu untuk berhenti sejenak dari keriuhan dunia saat ini dan bertanya kembali ke dalam diri. Apakah yang kamu kejar selama ini benar adanya bisa membuatmu bahagia? sambil melihat tagihan kartu kredit hasil jalan-jalan kemarin. Apakah perjalanan berpetualang ke negeri seberang membuatmu bahagia, atau hanya pelarian semata? Sampai di sini, kamu mulai berpikir. Mungkin sudah saatnya masuk ke dalam diri dan menyederhanakan arti bahagia tanpa harus melihat kanan kiri.
Sederhana dan mudah, sikap serta tindakan sehari-hari seringkali terabaikan karena tuntutan zaman yang begitu cepat dan gaduh. Seolah-olah tenggelam, menjadi tidak penting. Sudah siapkah kamu melakukan enam hal berikut untuk menjadi lebih bahagia?
1. Menjaga Pikiran
Pikiran kamu mempunyai peranan besar atas apa yang kamu rasakan, mulai dari marah, sedih, senang, nyaman, hingga tenang—segala bentuk emosi yang sangat mempunyai hubungan erat dengan kesehatan fisik dan mental. Mungkin kamu pernah membaca sebuah penelitian yang mengatakan bahwa 95% dari pikiran kita sama dengan hari sebelumnya, dan sayangnya 85% dari pikiran tersebut adalah pikiran negatif.

Kabar baiknya, kamu bisa melatih pikiranmu untuk masuk ke “ruangan” yang tepat—membentuk pola-pola yang bahagia dan sehat, sesuai dengan yang kamu inginkan. Salah satu langkah awal yang bisa kamu lakukan adalah dengan journaling, mencatat segala keberuntungan atau hal-hal sederhana yang membuat kamu merasa bahagia di setiap harinya.
Dalam buku The Miracle of Mindbody Medicine karya Dr. Adi W. Gunawan, CCH., disebutkan salah satu hukum pikiran: satu bentuk pikiran bila sering dipikirkan akan menjadi semakin kuat. Tentunya kamu bisa memanfaatkan hukum ini untuk mengajak pikiranmu agar lebih sering memikirkan hal-hal yang memberdayakan, yang kamu yakini bisa membuat hidup terasa lebih bermakna.
2. Olahraga dengan Senang Hati
Kamu pasti sudah sering mendengar pepatah klasik dari Yunani, Mens Sana in Corpore Sano—jiwa yang kuat dalam tubuh yang sehat. Pepatah ini masih sangat relevan dengan situasi yang saat ini sedang kamu hadapi. Kamu membutuhkan jiwa yang kuat untuk tetap bisa berpikir jernih dan mencari jalan keluar akan setiap situasi yang menghampirimu.
Dan jiwa yang kuat itu, tentu saja, bersumber dari tubuh yang sehat.

Jadi, hempaskan segala rantai berat di kakimu—yang selama ini menghalangi langkah. Mulailah mengayunkan sepatu olahraga barumu di tengah taman kota, mengayuh sepeda keren hitam kesayangan meluncur ke arah pedesaan yang menyejukkan, atau melatih keseimbangan tubuh dan mengatur napas lewat Hatha Yoga yang menenangkan.
Lakukan semua ini dengan hati yang senang, dan rasakan sendiri sensasinya.
3. Lindungi Diri dengan Support System yang Solid
Jika saat ini hubunganmu dengan keluarga dan sahabat masih baik, jagalah! Tidak semua orang seberuntung kamu. Semakin dewasa, circle pertemanan bisa dihitung dengan jari. Hal semacam ini, tidak perlu membuatmu khawatir dan merasa ada yang salah dengan dirimu.

Sekarang, coba cek kembali—siapa saja yang masih rajin menanyakan kabarmu? Siapa yang masih rela mendengarkan ceritamu, bahkan impian-impianmu? Berikan energi yang sama untuk mereka yang tetap hadir dalam hidupmu. Setiap orang punya prioritas, begitu juga dengan kamu, bukan? Alih-alih memikirkan mereka yang menjauh—yang belum tentu juga memikirkanmu—lebih baik fokuskan perhatianmu pada impian dan cita-cita yang ingin kamu raih, sembari memperkuat support system-mu sebagai pelindung di saat kamu terguncang.
4. Diet Social Media
Tujuannya sederhana: agar kamu mempunyai lebih banyak ruang dan pengalaman pada kehidupan nyata tanpa distraksi berlebih dari dunia maya. Kamu bisa memulainya dengan lebih menyaring apa yang kamu konsumsi. Seperti halnya kamu memilih makanan untuk tubuhmu—tentunya kamu akan lebih memilih makanan yang bernutrisi serta bergizi, bukan? Begitu juga dengan social media. Pilihlah konten yang kamu konsumsi dengan bijak, demi kesehatan pikiran yang akhirnya turut menunjang kebahagiaanmu.

Kalau selama ini kamu selalu penasaran membaca komentar-komentar pada sebuah postingan dua pesohor yang sedang bersiteru, atau mengikuti jalannya sidang terdakwa koruptor, yang pada akhirnya memancing emosi dan menguras energimu dalam sehari, mulai sekarang coba alihkan perhatianmu pada konten-konten yang bermanfaat. Misalnya yang berhubungan dengan hobimu—seperti memasak, memancing, merangkai bunga, melukis, dan sebagainya. Kamu akan menemukan, ternyata masih ada banyak konten yang bisa menjadi nutrisi baik untuk pikiranmu yang istimewa.
5. Menggali Potensi Diri
Kapan terakhir kamu berbicara dengan dirimu sendiri? Begitu istimewanya dirimu, sampai-sampai dibuatkan lagu oleh Tulus, penyanyi kebanggaan Indonesia dengan lirik-lirik yang puitis dan dalam. Setiap orang memiliki keunikan, setiap individu punya potensi untuk menjadi bermanfaat bagi sekitarnya. Itu sebabnya diri sendiri perlu diperlakukan istimewa.
Tidaklah penting di usia berapa kamu saat ini—kamu selalu bisa memulai untuk mencari tahu ketertarikanmu, dan menggali terus potensi yang tersembunyi di dalam dirimu. Sudah saatnya kamu mengenal diri sendiri lebih dalam: mengetahui apa yang diinginkan dalam hidup, apa yang membuatmu bahagia, dan apa yang membuatmu berguna dan berarti.

Mungkin selama ini kamu ingin menjadi seorang penulis, tapi belum yakin dan masih malu untuk mebagikan karyamu. Coba cari komunitas atau mentor yang bisa mendukungmu di bidang penulisan. Ikuti kelas menulis kreatif jika kamu tertarik dengan penulisan creative writing, atau bahkan kelas yang mengarahkanmu menjadi seorang penulis novel—menakjubkan bukan? Di kelas menulis, biasanya kamu akan mempelajari dasar-dasar kepenulisan, teknik pengemasan ide, copywriting, content writing, hingga berbagai hal yang bisa membuat tulisanmu lebih bernilai.
Begitu banyak peluang di luar sana. Tugas kamu hanya menemukannya dan terhubung dengan mereka. Percayalah, saat kamu sadar penuh akan potensi dan keberadaanmu, kamu akan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih bahagia.
6. Bersyukur
Dalam sebuah kutipan dari Marcus Aurelius, salah satu Kaisar Romawi dan juga seorang filsuf Stoa, tertulis:
“Think of what you have rather than of what you lack. Of the things you have, select the best, and then reflect how eagerly you would have sought them if you did not have them”

Seberapa peduli kamu dengan kesehatanmu saat ini? Apakah kamu menjaganya dengan baik? Bagus sekali jika jawabanmu adalah: YA! Teruskan untuk tetap mengapresiasi kesehatan yang kamu miliki dengan berolah raga dan menerapkan gaya hidup sehat, ini adalah salah satu wujud dari rasa syukur akan hal-hal yang kamu miliki saat ini.
Masih banyak hal yang bisa kamu syukuri mulai dari bangun pagi hingga jelang istirahat malammu. Keluarga yang masih bisa diajak bercanda, sahabat yang masih menyapa, hingga udara segar yang masih bisa kamu hirup. Itu semua patut dirayakan. Bagaimana kalau mulai dengan menulis jurnal syukur? Kegiatan ini bisa menguatkan rasa penerimaan dan kebahagiamu akan apa yang kamu miliki dan alami setiap harinya.
Pada prosesnya, kamu akan melihat bagaimana kamu lebih fokus pada dirimu sendiri, bukan pada orang lain. Bukan berarti kamu egois. Saat ini kamu sedang membentuk diri menjadi versi terbaikmu: kamu yang sangat menikmati hidup, lebih sehat, lebih bahagia, bermanfaat dan berguna untuk hidup dan kehidupan.
Dengan langkah kecil namun konsisten, kamu bisa menciptakan kebahagiaan sejati dalam dirimu. Kebahagiaan yang tidak mudah goyah, bahkan oleh keadaan sekitarmu.

