
Jarum jam seolah bergerak lebih cepat dari biasanya. Tanganku masih sibuk menari di atas keyboard laptop, berharap dentingan itu bisa sedikit melambatkan waktu. Tumpukan email memenuhi inbox yang tampak begitu padat, “Ini berkah melimpah,” gumamku pelan, sambil sesekali melirik jam mungil di sudut ruangan. Semakin kukejar, semakin cepat pula waktu berlari. Akhirnya, aku menyerah dan segera bergegas menenteng tas kesayanganku, sebelum aku terlalu tenggelam dalam ambisiku.
Lukisan kehidupan yang dipenuhi kesibukan, berlari tanpa henti. Ada yang menjerit, terjepit, menahan sakit. Namun, di antara kekalutan, ada pula yang menyelipkan warna indah, seperti benang-benang yang membentuk pola meski sempat terkubur dalam keruwetan masalah yang semakin kusut, tercelup dalam kubangan air di jalanan. Sedikit cemas membayangkannya, tentu tidak mudah untuk meluruskan kembali benang yang telah kusut itu.
“Tapi bukankah setiap masalah selalu ada jalan keluarnya?”
“Akan indah pada waktunya,” begitu kata teman-teman bijakku yang sering mengingatkanku.
Hari itu, hari istimewa. Kata orang-orang, ini adalah hari kasih sayang. Seketika penjualan cokelat meningkat, orderan bunga mawar pun tak mau kalah, dan paket makan malam romantis ikut ramai mewarnai perayaannya. Ucapan “HAPPY VALENTINE” terdengar merdu di radio kesayanganku. Ya… mereka sedang berbahagia, pada sebuah hari di mana kasih sayang begitu penting. Bukankah memang seharusnya seperti itu? Setiap hari, setiap waktu, setiap hembusan napas—kasih sayang, cinta, dan damai.
Mataku tertuju pada sebuah rangkaian bunga. Aku menghadiahi diriku sendiri seikat perhiasan bumi di hari istimewa itu. Kali ini, aku lebih dalam menikmati keindahannya—bukan soal siapa yang memberikannya (yang sudah jelas aku sendiri), tapi bagaimana rangkaian ini terbentuk.
Entah jin apa yang merasuki sang florist hingga menghasilkan karya seindah ini. Memilih bunga, memadukan warna dan ukuran, hingga akhirnya mereka berpadu dalam satu harmoni yang sempurna. Terasa tarikan napas sang florist begitu tenang, senyum kecil tersungging di sudut bibirnya, sementara tangannya yang terampil terus bekerja mengikuti irama.
Puas. Mungkin itu yang ia rasa.
Lega. Mungkin itu yang diteriakkan dalam hatinya.
Dari sang florist, pikiranku kembali hinggap pada Mawar, Pivoine, dan kawan-kawannya. Mereka diambil dari kebun yang berbeda, mungkin juga dari daerah, bahkan negara yang beragam. Dari kuncup hingga mekar merona, mereka masing-masing memiliki waktu mekarnya. Teringat akan sebuah lukisan bunga yang tergantung di dinding kelas. Di dalamnya tergores sebuah kutipan dari penulis Ken Petti: “Every Flower Blooms in Its Own Time.” Apakah ini cikal bakal ungkapan… akan indah pada waktunya?
Aku kembali berbisik kepada Eucalyptus, begitu dekatnya, hingga aroma daunnya membawa pikiranku ke masa-masa kecil yang imut, lucu, seperti Baby Breath yang nakal menggoda dengan cabang-cabang mungilnya. Ternyata semuanya bisa disatukan, tidak peduli sebesar apa bunganya, semencolok apa warnanya, serimbun apa daunnya, atau se-… Yes, yang diperlukan hanyalah penyesuaian, pengaturan, padu padan, dan satu tujuan yang mulia. Sebuah rangkaian bunga siap dipersembahkan untuk seseorang yang Istimewa.
Hari itu, rangkaian bunganya untuk diriku seorang, karena aku indah, aku Istimewa. Dari setiap kelopak bunga yang mekar, aku belajar, ada banyak bentuk cerita dalam perjalanan, ada kekuatan serta kelembutan pada diriku. Dari rangkaian bunga aku tersadar, setiap detik yang aku lalui adalah momen untuk menghargai diriku, dengan keunikan, keindahan yang patut aku syukuri.

