
“Ada rasa yang tak bisa dituntaskan oleh marah, hanya bisa diredakan oleh penerimaan yang jujur.”
Ada masa dimana aku terlihat begitu bahagia. Seseorang hadir dalam hidupku. Membuai hari-hariku dengan mimpi-mimpi indah. Seakan permadani terbentang disetiap langkahku bersamanya. Sungguh, aku tak pernah ingin memempercepat waktu saat bersamanya. Berbicara, bercanda, menikmati aliran pikiran yang deras tak terbendung. Itu adalah masa yang terasa indah, sebelum kenyataan mulai terungkap perlahan-lahan.
Satu persatu topeng terlepas, menghadapkanku pada rupa asli yang sangat jauh dari bayanganku. Apa yang dulu aku puja dan kagumi, kini sirna dalam sekejap. Seketika, gelap tak berarah, membuyarkan semua persepsi dan kekagumanku. Aku membenci, begitu dalam.
Terlalu percaya, terlalu kagum, terlalu yakin akan sebuah hubungan yang kuat dan tulus, yang seharusnya berlabuh pada masa depan gemilang. Namun kandas tanpa terkira. Seseorang yang aku percaya dan aku kagumi menghianatiku. Ini menimbulkan luka yang tak hanya dalam, tapi juga membingungkan. Seolah kenyataan mencubitku dengan kasar, membangunkanku dari keterlenaanku, dan membuatku kembali bertanya, siapa yang sebenarnya bisa aku percaya?
Pandanganku berubah. Sikap skeptis yang selama ini aku hindari tiba-tiba muncul sebagai tameng dalam setiap langkahku.
Sungguh, ini tidak nyaman.
Rasa kecewa berubah menjadi mimpi-mimpi buruk yang menyusup saat malam tiba, berbaur dengan rasa sakit yang tidak jelas asalnya. Saat pagi datang, tubuh terasa gontai, energi seakan terisap begitu saja hanya karena satu ingatan yang kembali hadir tak diundang.
Semakin aku mencoba melepaskan dan melupakan, semakin terasa ada yang terus mengejar, bahkan mengepungku. Rasa itu menuntut perhatian penuh, menuntut perlawanan yang tak sanggup aku lakukan. Aku lelah. Fisikku melemah, tapi batinku justru terus melawan. Aku ingin bebas, namun tak kutemukan cahaya penuntun untuk keluar dari belenggu itu.
Di titik itu, aku terdiam. Tertunduk, mengamati kebencian yang selama ini diam-diam aku pelihara. Sempat terpikir bahwa ini adalah bentuk perlindungan diri, cara menghindar dari segala kemunafikan yang mungkin kujumpai di perjalanan. Namun ternyata, rasa itu justru menjelma menjadi sebuah ancaman yang bisa meledak sewaktu waktu dan melukai diriku sendiri. Ini sungguh merugikan. Mengapa aku menarik diriku dari perjalanan hidup hanya karena secuil manusia? Apa andil mereka pada diriku? Seberapa penting kehadiran mereka sampai aku menggantungkan langkahku pada mereka? Dan mengapa aku harus bergantung? Bukankah pada akhirnya aku bertanggung jawab pada diriku sendiri, atas setiap langkah yang aku pilih?
Silih berganti pertanyaan dan pernyataan muncul di benakku. Terngiang suara dari sebuah sesi terapi yang pernah aku jalani, bagaimana kemarahan dan kebencian bisa perlahan menghancurkan diri sendiri. Bukankah akan lebih bijak jika aku mulai belajar mengelola semuanya? Demi menjaga kewarasanku, menjauhkan diriku dari kehancuran yang tak perlu?
Aku mengamati kelebatan peristiwa yang telah aku alami. Semakin jelas terlihat, rasa marah dan benci itu telah memasung langkahku, memenjarakan cerita yang sudah lama usai. Tapi entah kenapa, tetap kuputar ulang berulang kali, seringkali tanpa aku sadari.
Kesadaranku perlahan pulih. Perlahan, mataku mulai kubuka, berikut jendela dan pintu hatiku. Aku mulai paham: memaafkan bukanlah bentuk pembenaran atas apa yang telah terjadi, melainkan sebuah bentuk pembebasan. Dan yang perlu dibebaskan bukan dia…tapi aku—dari amarah, dari kebencian, dari kecemasan, dari bayang-bayang usang yang tak lagi layak menempati ruang hidupku hari ini.
Perlahan, sangat pelan. Pulih bukan dengan kilatan keajaiban, tapi lewat langkah-langkah kecil yang terseok, meniti satu persatu jalan. Setiap hari, setiap waktu, dijalani dengan sadar dan penuh asa. Berterima kasih pada diri sendiri: sudah kuat, sudah mampu bertahan sejauh ini. Ada kebanggaan dalam tidak tumbang. Ada keindahan dalam tetap memilih untuk bertahan.
Aku pun menyusun ulang prioritas dari segala aspek, termasuk orang-orang di sekelilingku. Melihat mereka satu per satu, mengenali mereka seperti aku menyapa kembali bagian diriku sendiri. Menjalani waktu bersama orang-orang yang benar-benar melihatku, bukan sekedar membutuhkan aku. Aku memilih untuk bertumbuh, bukan terjebak dalam lingkaran pasir hisap yang menghisap tenagaku.
Sekarang aku tahu. Semua ini adalah tentang bagaimana aku memilih melanjutkan hidup dengan hati yang utuh, meski dulu pernah retak, dan beruntung sekali saat itu belum sampai berserakan. Tentang belajar yang tak pernah usai, belajar memberi ruang bagi segala rasa yang hadir. Mengenalinya, agar aku bisa berjalan berdampingan dengannya, atau bahkan membiarkan dia berlalu, seperti hembusan angin pagi yang menyapa poniku lalu pergi.
Aku, Anjani…pernah retak, tapi kini hadir kembali, siap menjalani hidup dengan kepala dan hati yang lebih ringan.

