Traveling Ini untuk Siapa, Sebenarnya?

Sumber foto: Pixabay

Ada semacam keajaiban saat pergi jauh dan kemudian kembali dengan keadaan yang sudah berubah. — Kate Douglas Wiggin

Tumpukan pekerjaan yang menggunung, perselisihan dengan rekan kerja, drama percintaan yang semakin berliku, semua membuat napasmu terasa semakin berat dan dalam. Seperti yang kerap kamu rasakan, setiap kali pulang dari perjalanan, bukannya bersemangat dengan energi baru, kamu malah merasa hampa, kehilangan gairah dan semangat hidup.

Kamupun kembali mencari tahu, kali ini dengan scrolling dan googling, bertanya-tanya apa sebenarnya alasan orang rela ribet-ribet packing dan naik pesawat jauh-jauh. Dan, persis seperti itu! Kamu menemukan jawabannya: untuk mendapatkan pengalaman baru, menjelajahi tempat asing, mengenal budaya lain, melarikan diri sejenak dari rutinitas, belajar memperluas jaringan sampai meningkatkan kesehatan mental dan fisik. Tapi, yang kamu alami malah sebaliknya.

Apa yang sudah dilakukan traveling padamu, ya?

Apa mungkin ada yang salah dengan cara healing-mu selama ini?

Apa destinasi, teman yang kamu ajak, atau bahkan makanan dan minuman yang kamu konsumsi, berpengaruh?

Pertanyaan – pertanyaan itu justru membuatmu makin penasaran.

Dan tanpa sadar, kamu mulai mengemas pakaian lagi, siap untuk berangkat.

Traveling…healing!

Tidak ada yang salah dengan kegiatan yang bernama traveling, kok.  Coba ingat-ingat lagi, apa sebenarnya tujuan traveling-mu? Tidak perlu membandingkan dengan teman di sebelahmu, karena setiap orang punya agenda masing-masing — bukan cuma untuk urusan traveling, tapi untuk segala hal dalam hidup. Mungkin kamu pergi bukan untuk sekedar melihat tempat baru, tapi untuk merasakan dirimu sendiri dengan cara yang berbeda. Bayangin, bangun pagi disambut nyanyian burung yang sudah lama tidak kamu dengar di kotamu, atau duduk santai menikmati flat white hangat dan apple crumble favoritmu di sebuah kafe pinggir pantai. Kalau kamu bisa menemukan cara yang tepat, momen-momen seperti ini bisa jadi pengalaman baru yang berharga untukmu.

Traveling bisa menjadi pengingat hangat untukmu, bahwa hidup itu lebih luas dari timeline di media sosial,

lebih menggairahkan dari target pencapaianmu di kantor,

dan bahkan lebih dalam dari apa yang biasa kamu lihat sehari-hari.

Sumber foto: Pixabay

Ini bukan soal seberapa banyak kamu habiskan untuk tiket pesawat, akomodasimu yang nyaman, atau itinerary yang padat. Tapi dia bisa muncul saat kamu duduk hening di tepi sungai, mendengar gemericik air menyapa kerikil dan bebatuan. Mendengar nyanyian syahdu angin yang mengajak pepohonan berdansa. Mereka tidak berharap apa-apa darimu.

Dia juga bisa muncul dalam perjalanan jauhmu, saat kamu memperlebar kantong sabar menghadapi keterlambatan  atau bahkan ketidakpastian keberangkatan pesawat karena ada urusan penting yang diprioritaskan di atas jadwalmu. Kamu lelah, tapi hatimu tetap tenang karena ketenangan sudah kamu bungkus dalam oleh-oleh perjalananmu.

Sayangnya, pengalaman itu bisa terlewat ketika tujuanmu bukan untuk pulih, tapi untuk pamer, demi konten, demi jempol yang banyak di postinganmu, demi membuktikan pada mereka yang memandang sebelah mata. Agar story-mu dilihat banyak orang, agar kontenmu banjir likes dan komentar pujian, agar kamu tidak ketinggalan tren, menjadi orang yang paling pertama diantara teman-temanmu.

Sumber foto: Pixabay

Setiap tempat, setiap momen, bahkan barisan semut berjejer, kamu abadikan dengan ponsel pintarmu yang juga selalu update tren. Saat pulang, kopermu penuh dengan oleh-oleh untuk memenangkan hati teman, begitu juga dengan galeri fotomu, penuh hasil jepretan. Tapi hati tetap kosong, ada sesuatu yang tak terpenuhi.

Sebuah oleh-oleh untuk dirimu, tertinggal, terlupakan. Padahal, ini justru bagian terpenting dari traveling dan healing-mu: bagaimana kamu mebawanya pulang dan menjadikannya suntikan semangat di hari-harimu berikutnya. Coba kamu periksa hal-hal berikut ini — siapa tahu kemarin ada yang terlewat.

1. Niatkan untuk Pulih, Bukan Mengesankan

Ini pondasi yang perlu kamu tetapkan sejak awal. Tujuan yang benar-benar berkaitan dengan dirimu sendiri: pulih dari drama percintaan yang berliku, terbebas sejenak dari rutinitas kantor, atau menyembuhkan luka yang selama ini diam-diam membuatmu merasa tidak nyaman. Ya, semuanya demi satu hal: pulih. Menyenangkan diri sendiri. Bukan untuk membuktikan apapun ke siapapun. Dengan niat yang jernih seperti ini, kamu akan lebih mudah menikmati setiap detiknya.

2. Bawaan Ringan, Lahir dan Batin

Selama ini, koper-kopermu seperti formasi keluarga besar: ada ayah, ibu, paman, tante, kakek, nenek lengkap dengan cucu-cucunya. Berat… dan melelahkan, bukan? Sudah saatnya kamu sortir lagi isi barang bawaanmu. Bawa secukupnya saja. Begitu juga dengan ekpektasi dan kekhawatiran — tinggalkan yang tidak perlu. Melangkahlah lebih bebas, lebih ringan dalam kesederhanaan.

3. Berani Hadir Sepenuhnya

Kalau selama ini kamu masih rajin mantau grup WA kantor, masih sibuk mengikuti drama kehidupan artist pujaanmu… ya, apa bedanya dengan keseharianmu?

Bukankah kamu berangkat untuk mendapatkan hal baru?

Kenalan baru. Budaya baru. Aroma baru. Bagaimana semua itu bisa kamu dapatkan kalau matamu masih terus terpaku pada layar ponsel?

Coba letakkan sebentar. Lihat sekeliling.

Sumber foto: Pixabay

Ada Flamingo yang sedang bersiap menari bersama kelompoknya.

Ada pohon kelapa yang merayu angin untuk tetap berhembus.

Ada kupu-kupu yang bercengkrama dengan bunga Daisy.

Atau kamu bisa larut dalam aroma khas bunga kopi yang bercampur udara segar dari perkebunan.

Semua itu hanya bisa kamu nikmati…kalau kamu berani hadir sepenuhnya.

4. Hormati Ritmemu Sendiri

Kamu sedang traveling, sedang healing — bukan mengejar target penjualan atau Key Performance Indicator (KPI) demi kenaikan jabatan atau bonus akhir tahun. Jadi, kalau  lelah, ya istirahat. Kalau nggak mood jalan, nggak apa-apa, santuy saja. Jangan memaksakan diri demi memenuhi itinerary penuh spot viral yang katanya “wajib dikunjungi.” Ini waktunya kamu menikmati momen dengan dirimu sendiri. Dengarkan tubuhmu, rasakan hatimu.

5. Bersyukur, Sekecil Apa pun Momennya

Kadang healing hadir dari hal-hal paling sederhana, seperti secangkir kopi di kota yang belum kamu kenal, aroma pohon cemara yang menyatu sempurna dengan udara pagi saat kamu membuka jendela homestay, atau obrolan ringan dengan kusir andong yang masih semangat menyambut senja di tengah kota.

Momen-momen ini mungkin kecil, tapi jika kamu hadir dan bersyukur, rasanya bisa sangat besar. Kadang bukan tempatnya yang menyembuhkanmu, tapi cara kamu memaknai setiap detiknya.

Sumber foto: Pixabay

Terkadang, hal yang paling menyembuhkan bukan datang dari ke mana kamu pergi, dengan siapa dan membawa apa. Melainkan dari bagaimana kamu menjalani dan menikmati setiap langkahmu.

Tidak ada seorang pun yang menyadari betapa indahnya bepergian sampai ia pulang ke rumah dan meletakkan kepalanya di bantal lamanya yang sudah dikenalnya. —Lin Yutang

Traveling adalah sebuah penghiburan, semacam perayaan kecil atas keberhasilanmu menjaga kewarasan di tengah kebisingan dunia. Ia adalah sebuah ruang hening yang kamu pilih sendiri, agar bisa mendengar kembali suara hatimu. Ruang untuk lebih jujur, menentukan arah, memilih ritme dan menemukan cara terbaik untuk menikmati perjalanan ini — baik yang ada di luar sana, maupun yang ada di dalam dirimu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top