Kenangan Tembok Sekolah dan Pelajaran Privasi yang Tak Terduga

Sumber foto: Pixabay

Tembok pagar di hadapanku berdiri kokoh dan tinggi— begitu gagah, seakan tak tergoyahkan. Entah bagaimana, bangunan ini malah mengajakku memanjat kembali kenangan masa remaja yang manis, nakal dan menyenangkan. Saat itu jam pelajaran yang terasa mengantuk dan terlalu panjang—membosankan. Suara kasak-kusuk teman-teman di bangku belakang mulai terdengar. Mereka sedang merancang pelarian kecil yang nakal: keluar lewat jendela, mengendap-endap, lalu memanjat tembok sekolah. (Dalam hati aku berpikir, kalau ada ekskul panjat tembok, mereka pasti juara.)

Aku? Aku bukan bagian dari rencana itu. Tapi bosan tetap harus diatasi. Aku dan sahabatku memilih jalur lain. Medianya sama. Tembok. Bedanya, kami tak memanjatnya. Kami menemukan celah kecil, cukup untuk menyelinap keluar dari kejenuhan itu. Dan dari situlah petualangan kami dimulai.

Ada suatu waktu, dengan terpaksa aku memanjat tembok pagar rumah temanku, saat itu kami pulang malam karena sebuah kegiatan OSIS, dan, yah, bisa ditebak: gerbang rumah sudah terkunci. Tinggalah aku dan teman itu, tergopoh-gopoh memanjat tembok pagar rumahnya. Saat itu, belum ada ponsel. Yang kami andalkan hanyalah teriakan tertahan kami, memanggil si mbok yang sudah terlelap setelah tugas rumahnya yang berjibun—kasihan, si mbok.

Begitulah, tembok pagar itu menyimpan kenangan masa remajaku, sesekali saat melewati gedung sekolah, aku masih menyempatkan diri melirik ke arahnya. Dia sudah berubah, lebih tinggi, gagah, dan rapi. Aku bertanya-tanya, apakah masih ada siswa iseng seperti kami dulu?

Saat masih remaja, segala halangan diterobos dengan gagahnya. Celah tembok, lubang di tembok, bahkan tembok pagarnya sendiri, semua ditaklukkan demi satu kata: kebebasan.

Biasanya, setiap rumah dilengkapi dengan tembok pagarnya sendiri. Ada juga beberapa perumahan dengan sistem one gate dan keamanan 24 jam. Ini juga merupakan wujud lain dari pagar—sebuah batas yang dibuat untuk membuat penghuni rumah merasa aman dan nyaman.

Agar tidak terusik oleh tatapan kepo dari tetangga yang mengintip segala gerak-gerik ‘unik’ di halaman rumah. Mungkin ada yang nyaman hanya memakai kutang di rumah, atau dengan santainya melenggang pakai boxer sambil memegang selang menyiram tanaman.

Ya, pagar rumah itu pelindung untuk semua itu.

Berbagai macam bentuk dan tinggi pagar rumah dibangun mengikuti selera dari pemiliknya atau kalau terpaksa, mengikuti desain dari developer. Ada yang menjulang tinggi dengan lekukan-lekukan seperti naga mengelilingi rumah, ada pula yang sederhana tapi tetap bersahaja berhias tanaman merambat di atasnya. Tujuannya? Estetika rumah, setidaknya itu yang aku temukan hasil ‘ngulik’ di google.

Privasi dijaga melalui sebuah tembok yang mengelilingi rumah. Jangan sampai ada yang melirik tanpa izin, apalagi masuk tanpa memencet bel. Aku masih berada di depan tembok pagar tinggi itu, dengan pikiran yang berkelana, menyadari betapa kini orang begitu mudah mengumbar privasinya di media sosial. Ada penggerebakkan perselingkuhan yang sengaja direkam dan disebarluaskan, klarifikasi dari petinggi atau pesohor dengan drama percintaan yang justru menarik untuk disimak. Hitung-hitung, mendapat tontonan gratis tanpa harus berlangganan saluran film streaming. Kadang, aku juga melihat seorang yang katanya artis, bertengkar dengan kekasihnya di media sosial.

Di kepalaku muncul pertanyaan: apakah mereka tidak pernah memanjat tembok sekolah? Tapi mungkin itu bukan pertanyaan sebenarnya.  Apakah semua adegan yang mereka pertontonkan benar adanya? Atau mungkin ini cara membangun tembok pagar yang berbeda? Atau jangan-jangan, segala adegan itu sudah diatur dalam skrip demi jutaan views dan sponsor? Entahlah…

Aku beberapa kali sempat mengintip juga ke dalamnya, tapi tak mau terlalu larut dalam drama itu—nggak ada juga kepentingannya buatku. Yang aku dengar, banyak dari kita yang amat sangat ingin tahu kehidupan orang: pacarnya siapa, sekarang kerjanya di mana, sudah berapa punya anak, rumahnya dimana…kapan terakhir berobat ke dokter?

Eh—yang terakhir itu tiba-tiba saja nongol. Boleh dilewatkan.

Begitu ingin tahunya kita akan kehidupan orang lain, sampai berharap ada transparansi total lewat tayangan di akun berbayar media sosial. Tapi…apa kita sendiri siap kalau cerita hidup kita juga dibuka begitu?

Dalih yang sering aku dengar adalah, demi mendapat informasi langsung dari sumbernya, demi tidak ketinggalan kabar, demi ini, demi itu…

Tapi setiap orang punya hak membangun tembok pagarnya sendiri. Mau setinggi lutut, sepinggang, menutupi muka, atau menjulang tinggi bagai benteng. Entah masih ada celah untuk anabul mengintip, atau tertutup rapat tanpa sisa. Semua itu tentu dibangun dengan pertimbangan matang oleh pemiliknya.

Aku pun kembali terhubung dengan fungsi tembok pagar—sebagai pelindung sekaligus pengontrol. Karena ada hal-hal yang bisa dibagi, dan ada yang lebih baik tetap tetap berada di balik tembok.

Aku menyudahi lamunanku di depan tembok pagar rumah itu. Jari telunjukku bergerak ke tombol bel, saatnya menyapa teman lama, bukan hanya kenangannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top