Luput dari Radar

Setiap weekend, aku habiskan waktu dengan beberes rumah dan bercengkarama dengan anabulku, Kopi. Ada saat-saat tenang dimana aku hanya duduk, memandang taman bunga yang mulai lebat. Tapi hari itu, ada yang berbeda. Sesuatu yang kosong, dan entah kenapa, aku merindukan kehadiran seseorang. Rindu belaian, hangat rayuan, dan napasnya yang setiap pagi tercium lembut di dekat wajahku. Aku merasa bunga-bunga di taman itu kehilangan warnanya, seakan ada yang hilang dalam diriku.

Sebuah kebosanan perlahan menerpa hatiku. Penantian yang tak kunjung berujung, masih membayangiku. Aku membuka kembali foto-foto dari seseorang yang sempat singgah di hatiku, berharap itu bisa mengobati rinduku pada sebuah rasa cinta. Tapi kenapa yang kurasakan malah semakin sesak? Gambaran-gambaran masa lalu dan kenangan bersama mantan muncul silih berganti, seakan aku memutar sebuah film panjang yang tak ingin aku lihat lagi.

Aku membiarkan diriku terlalu lama sendiri, sejak jalinan cintaku dengan seorang pria dari Magelang kandas sepuluh tahun lalu. Malam mingguku biasanya habis berkutat dengan pekerjaan kantor yang aku bawa pulang, atau kadang keluar hanya untuk ngopi bareng sahabat, yang kini nasibnya serupa denganku: single and mingle.

Hanya saja, temanku ini sangat jauh dari kata mellow. Dia jago urusan kencan. Aku tahu dia sangat aktif di dunia kencan online, bahkan saat kami berbincang, sesekali dia sibuk dengan gadget-nya. Telunjuknya bergerak cepat ke kanan, kadang ke kiri, sambil tersenyum, mengangguk, atau menggeleng.

“Sekarang ini lagi menikmati masa-masa single dulu Jay,” ujarnya, telunjuknya terus bergerak, seakan dia sedang memilih kandidat terbaik di jagat maya.

“ Tapi nggak murni single banget sih. Kalau pengen kencan, tinggal ajak deh mereka yang ada di aplikasi ini,” lanjutnya, sambil memperlihatkan foto-foto pria yang siap untuk diajak ketemuan.

Aku tertawa pelan. “Pilihannya secepat itu ya?”

“Kamu coba gih, biar kamu nggak grumphy kalau ketemu aku,” jawabnya sambil terkekeh.

“Aplikasi ini bisa jadi tempat penuh peluang, seperti taman yang terbuka untuk siapa saja. Yang penting, jangan terjebak sama yang salah,” katanya, masih dengan semangat yang menggebu.

Apa bisa, applikasi ini mempertemukanku dengan seseorang yang aku inginkan? Rasa penasaran mulai menggelitikku. Apakah aman, dan akan berjalan lancar? Pikiranku mulai berselancar, bertanya-tanya bagaimana semuanya bisa terjadi.

Seperti memberikan kuliah pada mahasiswanya, temanku mulai menjelaskan panjang lebar. Aku pun menyimaknya, meskipun rasa ragu masih membayangi pikiranku. Dia memulai dengan kisah temannya, Ajunk, yang berujung di pelaminan, meninggalkan profesinya sebagai dosen di Denpasar untuk terbang ke New Zealand bersama sang suami. Rupanya, kisah itu menjadi penyemangat baginya untuk terus mencoba, tak peduli berapa kali ia jatuh.

Setahuku, saat ini ia sedang berkomunikasi intens dengan seseorang, bahkan sudah beberapa kali liburan bareng dan saling mengunjungi keluarga masing-masing. “Saat ini masih dalam tahap menguatkan keyakinan untuk pindah ke Kanada sih Jay. Masih mikir-mikir dan mencari jalan tengah.”

Ratna, begitu panggilannya, memang sedang sangat produktif. Karirnya di dunia akademis luar biasa,  ditambah lagi dengan kegiatan sosial di yayasan yang ia bangun bersama beberapa rekannya. Rasanya sangat disayangkan jika kisahnya harus putus di tengah jalan

Selain kisah sukses yang kudengar, banyak juga yang harus gigit jari berkali-kali di dunia ini. Scammer, NPD, ghosting, dan segala hal yang bisa membuat mental terguncang jika tak siap. Bahkan kisah tragis seperti ini sempat difilmkan, The Tinder Swindler, kalau nggak salah.

Aku larut dalam cerita temanku. Nggak salah jika dia menyandang gelar dosen favorit di kampusnya. Gaya berceritanya sangat meyakinkan, bisa membius siapa saja yang mendengarnya. Ceritanya runut, seakan outline dan pengembangan narasinya sudah dirancang sebelumnya. Aku tersenyum dalam hati, takut kalau sampai ngakak, penggaris bisa melayang ke mejaku!

Tibalah segmen wejangan dari sang dosen. Dengan santai, ia menyarankan kepadaku untuk mencoba, “Gak ada salahnya kan, Jay?” Jemari lentik dengan kuku berhias motif bunga mengambil cangkir yang kebetulan warnanya senada.

“Hanya saja, kamu jangan pernah punya ekspektasi yang terlalu tinggi di awal untuk kencan macam ini.” Kacamatanya diturunkan sedikit, kali ini aku sungguh merasa takut, tampak matanya menelisikku, seakan tahu persis apa yang aku pikirkan.

Dia mengambil handphoneku dan segera mendownload applikasi kencan yang menjadi favoritnya. Tangannya begitu lihai, hampir seperti sudah terlatih. Begitu aplikasi terdownload, dia langsung mendaftar dan membuat profile untukku, lengkap dengan deskripsi tentang diriku, preferensiku, dan kriteria pasangan yang sedang aku cari. Dia paham banget, seakan sudah di luar kepala, saking seringnya jadi wadah curhatanku tentang mantan-mantanku.

Dia pun memilih beberapa foto terbaik dari galeriku, “Udah, kamu sudah berada di market sekarang.” Ia mengedipkan mata kanannya sambil tersenyum menggodaku.

Kembali berceloteh seperti brand ambassador dari kencan online, Ratna membeberkan keunggulannya. Aku pun manggut-manggut, seakan mendapat pencerahan. Benar juga apa yang dikatakannya, applikasi ini memberikan kesempatan yang luar biasa luas untuk bertemu dengan kandidat dari berbagai macam negara, kriterianya pun bisa disesuaikan dengan keinginan hati, hmm… customized? Dan tentu saja, ini sangat efisien. Bunga-bungapun nampak bermekaran di mataku, mendadak ada aroma-aroma wangi bertebaran menyapa hidungku, sebuah harapan!

Hanya saja, imajinasi itu menjadi agak pudar setelah cubitan kecil dari Ratna menyadarkanku.

“Jangan terlalu berekspektasi tinggi di awal, ya Jay,”

“Ini perlu proses, sama halnya dengan kencan biasa sih”

“Kamu mesti jaga komunikasi, bila perlu komunikasinya yang intens. Cari tahu informasi sana-sini dan dapetin feel-nya.”

“Kalau bisa kamu ajak dia video call dulu, inget, jangan yang aneh-aneh!” matanya mendelik, serius.

“Dan kalau kamu cocok di tahap ini, ketemuan deh.”

“Trus, jadian gitu?” mataku berkedip genit.

“Jayendra Mahardika… kamu polos atau lugu sih? Yang namanya kencan, ya waktunya untuk mengenal satu sama lain donk. Penyesuaian ini dan itu, perjalanan masih panjang, dan kalau dirasa gak cocok, jangan diterusin, lha.”

“Pokoknya prosesnya sama dengan kencan biasa,” dia mewanti-wanti.

Dia pun menyelipkan beberapa tips demi kelancaran proses bertemu dengan calon pasanganku. Seperti biasa, tone-nya sangat menggebu-gebu, hingga aku berkali-kali memberi kode untuk menurunkan volume suaranya.

Temanku ini adalah seorang dosen psikologi, seorang psikolog, sekaligus sound healer. Hanya saja, jika bertemu denganku, dia segera melepas embel-embel tersebut, dan menjadi dirinya sendiri. Pertemuan kami bukan untuk bergosip, tapi sering kali membahas hal-hal yang sangat mendalam, terkadang urusan klenik yang bikin bergidik. Saking horornya, aku sering merasa tersesat dan butuh penerangan untuk keluar dari terowongan berliku akibat obrolan kami.

Katanya, jodoh itu seperti kupu-kupu. Semakin dikejar, semakin ia menjauh. Kalau terlalu memaksakan, bisa-bisa sayapnya patah. Tapi, kalau kita merawat taman bunga kita dengan baik, yang datang bukan cuma kupu-kupu. Mungkin ada juga kumbang yang bisa memperindah taman itu, dengan cara mereka sendiri, yang misterius, tak terlihat oleh banyak orang, namun tetap memberi warna pada dunia yang ada.

“Intinya, rawat dirimu baik-baik. ‘Tamanmu’ harus terjaga, supaya yang datang itu benar-benar cocok denganmu.” Ratna melanjutkan, suara lembutnya seolah berbisik, menambah kesan magis pada setiap kata.

“Kalau tamanmu berantakan, siap-siap aja kupu-kupu lari ke tempat lain. Sebagai gantinya, ada kawanan ngengat yang mampir. Mereka mirip lho, hati-hati… jangan sampai terkecoh. Atau kamu bisa pasang plang bertuliskan, NGENGAT DILARANG MASUK!”

“Hanya menerima kumbang.” Aku terkekeh hampir tersedak.

“Kenapa jadi kumbang? Bukannya berisik ya?” Ratna mengernyitkan dahi, tatapannya tajam mencari sudut mataku, mencari tahu apa yang aku maksudkan.

Mendengar analoginya, aku tersenyum, meskipun dalam hatiku masih ada rasa ragu. Aku memang takut kupu-kupu, entah kenapa sejak kecil sudah seperti itu. Tapi, mungkin ini bukan tentang takut akan apa yang datang. Mungkin ini soal bagaimana aku merawat tamanku, diriku, agar aku menarik hal-hal yang memang benar-benar seharusnya ada di sana.

“Jay, ikut workshopku yuk, banyak yang lucu-lucu lho, siapa tahu ada kumbang yang nyantol.” Kali ini satu pisang goreng menjadi korbannya, dan aku tertawa, meskipun rasanya masih ada yang mengganjal dalam dada.

Dari rentetan wejangannya, aku menangkap banyak hal yang benar-benar mengena. Selama ini, aku terlalu khawatir dengan diriku sendiri, terlalu sering mencari apa yang salah dan kemudian menyesalinya. Alih-alih memperbaiki dan menjadikannya pelajaran, aku malah terjebak dalam penyesalan. Aku terlalu sibuk menghidupkan kembali masa lalu, berpikir bisa mengulang kenangan-kenangan indah itu kembali bersama masa lalu. Tanpa aku sadar, masa laluku sudah berganti dengan masa kini, yang kini sudah punya kehidupan sendiri. Dan aku tak lagi bisa meratapinya.

Sebuah pencerahan dari seorang Dr. Ratna Bernada, S.Psi., M.Si., Psikolog, temanku yang bijak tapi jika bertemu aku, dia akan lepas, apa adanya, tanpa pretensi. Dia memberiku titik terang untuk percaya kembali pada cinta, terlebih, ia dengan sabarnya telah mengembalikan makna cinta dalam diriku.

Ratna tersenyum, memamerkan kuku-kukunya yang cantik, dan menambah satu tips lagi. Aku mulai merasa cukup, meskipun pikiran tetap berusaha mencari arah di tengah kerumitan yang ada. Namun, sebelum aku sempat bertanya lebih jauh tentang kisah-kisah yang lebih ‘seram’, tiba-tiba aku mendengar suara notifikasi dari aplikasi itu memecah keheningan. Jantungku berdegup kencang. Tanpa bisa menahan diri, aku memeriksa layar, dan yang muncul adalah pesan dari seorang pria berwajah Asia, dengan lesung pipi yang menggoda, matanya tajam namun penuh ketenangan, Antara. Aku terpana, ada kedewasaan yang menenangkan di balik senyumannya, seakan dia sudah melalui banyak hal dalam hidup.  

Aku memalingkan layar ponselku ke Ratna, tubuhku mendadak kaku. Matanya terbelalak, ekspresinya berubah seketika, dan ia tersenyum lebar. “Bapak Antara?”

Catatan: Tokoh-tokoh dalam cerita ini adalah fiksi belaka dan tidak berkaitan dengan individu atau kejadian nyata.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top