Anjani, Ombak dan Cerita yang Tak Tersampaikan

Sumber foto: Pixabay

Warna langit perlahan berubah, bagai kanvas yang dilukis oleh seorang maestro. Biru dan putih menjadi latar, lalu perlahan menyerap indahnya goresan jingga yang  berpadu mengikuti alunan waktu, bergerak menyentuh cakrawala. Senja telah tiba.

Aku duduk menikmati orkestra alam yang seakan disuguhkan hanya untukku. Di hadapanku, ombak datang silih berganti, menghantam karang lalu mundur perlahan. Sesekali ia seolah menoleh ke arahku, mencuri pandang, kemudian berlalu. Ada sesuatu dari suara deburnya yang membuatku tetap diam di sana, mencarinya, menunggu suara itu datang kembali. Seolah-olah menunggu sebuah cerita dimulai.

Aku membayangkan—seandainya ombak bisa bicara, mungkin tak akan cukup sehari untuk menceritakan jutaan kisah yang ia simpan selama ini. Tentang orang-orang yang pernah duduk di tempat yang sama denganku. Tentang mereka yang bersedih karena kehilangan, menangis diam-diam di balik kacamata hitam. Tentang hati yang berbunga dan tangan yang saling menggenggam mesra, mata mereka berbinar karena baru merasakan jatuh cinta. Tentang seseorang yang duduk sendiri seperti aku, menatap laut tanpa suara, membawa beban yang tak bisa dibagi pada siapa pun.

Cerita-cerita itu menggulung, menyatu dalam gelombang yang tak pernah lelah datang dan kembali ke dalam.

Aku sendiri sering datang ke tempat ini ketika pikiranku mulai dipenuhi serabut-serabut tak menentu. Penuh.

Aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Dunia akhir-akhir ini terasa terlalu cepat—berlari, seperti dikejar dan diburu. Terlalu bising.

Saat aku sedang ingin bercerita, tidak semua orang benar-benar mendengarkan. Kadang mereka memotong. Kadang saling berlomba dengan kepedihan. Kadang menyela dengan saran yang tak kupinta. Kadang mereka tampak hadir—sekadar hadir—tapi tidak benar-benar ada. Kadang, mendapati diri tidak lagi punya teman. Jangankan untuk mendengarkan, untuk bertemu saja pun terasa tidak mudah.

Tapi ombak tidak seperti itu.

Aku tahu, ini terdengar tidak wajar—berbicara pada ombak. Tapi aku melakukannya. Karena aku merasa aman.

Apa kamu juga merasakannya?

Ombak tak pernah menyela. Tak pernah menghakimi. Tak pernah menyebarkan apa pun yang kubisikkan kepadanya. Ia hanya mendengar. lalu menggulung semua cerita itu, menyimpannya dalam debur, dan mengembalikannya ke laut yang luas.

Terkadang aku berpikir—mungkin saja ombak juga ingin bercerita.

Mungkin ia juga merasa kesal.

Kesal pada pantai yang makin pendek. Kesal karena harus membawa sampah plastik yang bukan miliknya.

Sumber foto: Pixabay

Sepertinya ia lelah.

Dulu, ia hanya bermain dengan pasir, dengan cangkang kerang, dengan buih. Sekarang, ia harus menanggung ketamakan manusia. Menanggung ketidakpedulian. Namun meski begitu, ombak tetap datang. Ia tetap menyapa. Dengan suara yang kadang keras, kadang lembut. Ia tak pernah benar-benar pergi—seperti seorang teman yang tak bisa berkata “tidak apa-apa”, tapi tetap ada di sisimu saat kamu butuh.

Di tempat ini, aku juga sering memperhatikan angin yang datang bersamanya. Selalu ada angin yang menemani ombak. Mereka seperti pasangan yang tak terpisahkan.

Aku tidak tahu, hubungan seperti apa yang mereka punya. Open relationship, atau eksklusif? Hey… aku pernah mendengar istilah-istilah ini dari teman-temanku—dan aku sungguh tidak memahaminya hingga sekarang.

Tapi pada hubungan ombak dan angin, aku merasa iri.

Karena sejauh ini yang aku tahu, dalam hidup, tidak semua orang punya seseorang yang setia menemani tanpa syarat.

Tapi ombak punya angin. Dan angin punya ombak. Itu saja sudah cukup. Mereka saling menemani, dari pagi hingga pagi tiba.

Sore itu, aku menyadari—bicaraku pada ombak lebih lama dari biasanya. Aku bercerita tentang kegelisahan yang bahkan tak bisa kupahami. Tentang hal-hal yang rasanya makin di luar nalar. Tentang keresahan melihat berita. Tentang dunia yang makin rusuh. Tentang diri yang merasa kecil. Aku tahu, ombak tidak akan menjawab. Tapi ia tetap mendengar.

Pandanganku semakin kulempar jauh. Aku berpikir—terkadang hidup seperti laut yang luas. Di permukaan, ia tampak tenang. Damai. Seperti sedang tersenyum. Tapi di dalam, ada arus yang berputar, membawa serpihan-serpihan perasaan yang tak mampu kita urai. Dan tidak semua orang bisa menyelam sedalam itu. Bahkan kita sendiri pun, sering takut menyelaminya.

Duduk di pantai, ditemani ombak, membuatku belajar dan sadar bahwa aku tidak sepenuhnya sendiri. Aku punya ruang diam. Tempat untuk bernapas. Menata ulang apa yang berserakan. Dan itu cukup…untuk merapikan hariku saat itu.

Sebelum berdiri dan pulang, aku membungkuk pelan—membiarkan jemariku menyentuh permukaan air yang datang ke arahku. Hangatnya mengalirkan ketenangan dalam jiwaku.

“Aku akan kembali besok,” kataku dalam hati.

“Masih banyak cerita yang ingin aku sampaikan.”

Dan seperti biasa, ombak tak berkata apa-apa. Tapi aku tahu ia memahami.

Mungkin itu yang terus membawaku kembali menemui ombak,

Di dunia yang terus bergerak dan saling berkejaran, kadang kita butuh ruang untuk berhenti. Kembali menata—agar setidaknya merasa rapi.

Pantai adalah tempatku melakukannya.

Dan ombak, seaneh apapun terdengar, adalah temanku…dalam ruang diam itu.

Aku rasa, setiap orang punya ruang diamnya sendiri. Mungkin…setiap orang punya ‘ombak’ mereka sendiri. Mungkin itu sudut kamar. Bunga mawar di teras. Meja kopi di pagi hari. Atau bahkan lagu yang diputar berulang kali saat rintik hujan menyapa bumi.

Sebuah tempat yang membuat kita merasa aman—untuk jujur.

Setidaknya, pada diri sendiri.

Catatan Anjani di tepi pantai, menanti belahan jiwa yang tak kunjung sampai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top