Ketika Dunia Terasa Berat, Ini yang Bisa Kamu Lakukan

Sumber foto: Pixabay

Anxiety happens when you think you have to figure out everything all at once. – Morgan Harper Nichols

Setiap hari ada saja yang membuat dadamu terasa sesak, kepalamu berat dan bulir-bulir keringat dingin berjatuhan dari tubuhmu. Kadang kamu merasa lucu sendiri, betapa sepele penyebabnya. Tapi tetap saja, ia menyita ruang di pikiranmu, mengendap pelan-pelan, lalu berubah  menjadi awan gelap yang menggantung sepanjang hari.

Kekhawatiran dan kecemasan, tanpa kamu sadari menjadi hobi yang rajin kamu jalani. Seolah-olah kamu punya janji rutin dengannya, bertemu diam-diam di dalam benakmu, kasak kusuk tentang skenario-skenario buruk yang belum tentu akan terjadi.

Ada saja yang membuatmu khawatir dan cemas. Khawatir terlambat ke kantor karena alarm yang ikutan malas bersuara. Khawatir presentasi besok terlalu ribet dan kamu takut klien tidak akan mengerti. Belum lagi, ada beban lain yang mengintai: suasana kantor yang makin tidak membuatmu nyaman, persaingan yang awalnya terasa biasa saja, diam-diam berubah menjadi perlombaan menjatuhkan.  Kamu takut, project yang sedang kamu garap ditikung oleh rekanmu yang lebih pandai menjilat  dan lebih dekat ke atasan.

Rasanya seperti berjalan di lorong panjang, gelap dan penuh jebakan.

Maju kena mundur kena…itu judul filmnya Warkop bukan?

Tapi ini bukan film.

Ini kenyataan.

Dan kamu sedang menjalaninya, tanpa jeda iklan dan tanpa penonton yang bisa kamu ajak tertawa terbahak-bahak. Hanya kamu dengan segala kekhawatiranmu.

Lalu, tanpa kamu sadari, kekhawatiranmu berkembang ke area yang lebih besar. Kamu mulai memikirkan kondisi politik yang tidak menentu, geram akan pernyataan-pernyataan yang membuat pikiranmu semakin kehilangan sehatnya. Kamu mulai cemas pada pemanasan global, resah soal perang dagang antara dua negara yang bahkan belum pernah kamu datangi. Pundakmu terasa semakin berat. Seakan kamu sedang menggendong dunia. Kamu ingin tetap peduli, tapi batas antara kepedulian dan kelelahan terasa semakin tipis. Kamu bingung, apa ini bentuk kepedulian atau justru bentuk lain dari kekhawatiran yang terlalu sering kamu pelihara? Segalanya terasa terlalu banyak. Terlalu luas. Terlalu dalam untuk kamu kupas sendirian.

Ironisnya, semakin kamu mencemaskannya, semakin banyak pula hal-hal yang terasa seperti pembenaran atas rasa itu. Seolah kecemasanmu benar-benar sedang dalam perjalanan menuju kenyataan.

Seolah-olah algoritme semesta ingin berkata: “Yang kamu khawatirkan benar adanya.”

Kamu mulai mengalami kejadian-kejadian yang mengarah ke sana.

Timeline-mu dipenuhi berita buruk, komentar sinis, dan spekulasi orang-orang yang tampak pintar yang membuat ketakutanmu semakin membesar seperti balon yang ditiup tiada henti. Seperti hidup di dalam ruang gema kecemasan, segala ketakutan dan kecemasanmu dipantulkan kembali dalam bentuk yang lebih besar, pekat dan kelam.

Dan, kamu tidak sendiri.

Bayangkan, seberapa besar kekuatan dari pikiran-pikiran cemas jika dikumpulkan dari jutaan orang. Kecemasan yang tadinya hanya setitik dalam benakmu, bisa menggelinding dan menggulung semakin besar, seperti bola salju yang jatuh dari lereng tinggi.

Menabrak apapun yang dilewatinya, hingga tak menyisakan ruang untuk keheningan.

Energi negatif saling memanggil, saling menguatkan, bagai magnet yang menarik apapun yang serupa dengannya.

Law of attraction bekerja, tapi kali ini bukan untuk hal-hal baik.

Kecemasan demi kecemasan muncul di layar ponselmu.

Di dalam group chat. Di siaran berita. Di kolom komentar yang gaduh.

Dan tanpa sadar, kamu menjadi bagian dari arus itu.

Terseret perlahan, sambil meyakini bahwa itulah satu-satunya kebenaran yang sedang berlangsung di dunia.

Sumber foto: Pixabay

Sekarang, coba balikkan arah. Bagaimana jika yang dikumpulkan adalah energi positif?

Bayangkan jika pikiran-pikiran penuh harapan, semangat yang tak mudah padam dan tindakan-tindakan kecil yang tulus disatukan dan dipancarkan bersama.

Setiap orang memancarkan sinya-sinyal yang baik,

menggetarkan magnet perdamaian,

meresonansi penghijauan,

saling mengusung welas asih.

WOW! Bayangkan betapa indahnya dunia bisa berubah ketika yang tersebar bukan lagi kecemasan, melainkan kebaikan yang mengalir dari hati ke hati. Dan itu dimulai dari kamu.

Bukan untuk menghakimi rasa cemas itu. Karena sungguh manusiawi jika kamu merasa cemas dan khawatir. Tapi jangan berhenti di sana. Jangan biarkan ia menggulung menjadi tumpukan raksasa.

Rasa itu adalah sinyal, bukan alarm bahaya yang harus membuatmu panik. Sinyal yang mengajakmu untuk mengenali kebutuhanmu lebih dalam.

Kamu khawatir terlambat ke kantor? Coba atur ulang agenda harianmu. Bangun lebih pagi. Siapkan spare waktu agar tidak tergesa-gesa. Semakin pagi kamu bangun, makin banyak ruang yang bisa kamu beri untuk dirimu.

Kamu cemas dengan presentasimu? Coba ubah pendekatannya. Sederhanakan materi. Berlatih di depan cermin. Minta feedback dari teman yang bisa kamu percaya.

Mungkin bukan kesempurnaan yang kamu butuhkan, tapi kepercayaan bahwa kamu sudah cukup berusaha.

Kamu cemas soal lingkungan? Mulailah dari langkah kecil yang kamu bisa lakukan hari ini. Bawa tumbler ke mana pun kamu pergi. Kurangi penggunaan kantong plastic sekali pakai. Buang sampah dengan benar, dan ajak orang terdekat untuk melakukan hal yang sama.

Kamu cemas dunia terasa makin kacau dan orang-orang makin egois? Coba mulai dari sabar saat antre di kasir. Tahan keinginanmu untuk menyerobot, tetap di barisanmu, hormati giliran orang lain. Tindakan sederhana yang menciptakan ruang damai, bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk dirimu sendiri.

Tak perlu sempurna, yang penting mulai melangkah nyata.

Sumber foto: Pixabay

Di dunia maya, kamu juga bisa memberi asupan sehat untuk pikiranmu. Pilih dengan sadar apa yang kamu ingin lihat dan dengar. Cari konten yang mendidik, membangun dan memberi harapan. Ingat algoritme yang kamu ciptakan sendiri—semakin banyak hal positif yang kamu cari, semakin banyak pula hal-hal baik yang datang menghampiri timelinemu.

Mulai dari resep sarapan sehat yang sederhana, tips merawat anggrek di taman vertikal, hingga video singkat tentang hal-hal baru yang bisa membantumu bertumbuh. Temukan komunitas yang seru dan sportif di dalamnya. Bukan sekedar untuk mengalihkan perhatianmu, tapi sebagai bentuk perlawanan terhadap monster kecemasan yang diam-diam ingin mematahkan langkahmu

Dan penting juga untuk menemukan support system yang bisa melihat kamu sebagaimana mestinya. Bukan hanya saat kamu bersinar, tapi juga ketika kamu redup dan ingin menyerah.

Yang bisa melihat potensi dalam dirimu bahkan ketika kamu sendiri tak meyakininya.

Yang bisa mengubah caramu melihat dunia—bukan dengan ceramah, tapi dengan hadir.

Yang tidak menyuruhmu kuat, tapi duduk diam bersamamu dalam diam yang berat.

Yang bisa mengingatkan kamu bahwa langkah kecilmu hari ini tetap berarti. Kamu tidak sendirian.

Kalau kamu sudah menemukannya—selamat!

Peluk erat mereka. Dan jangan lupa, kamu juga bisa jadi itu…untuk orang lain.

Kecemasan boleh datang, tapi jangan biarkan dia memegang kendali. Pegang tangannya, ajak dia berjalan bersamamu. Biarkan dia tahu bahwa kamu yang tetap memegang arah, meski langkahmu gemetar. Karena keberanian bukan tanpa rasa takut, tapi tentang memilih untuk tetap melangkah  bersamanya.

Berjalanlah perlahan. Nikmati setiap prosesnya. Karena kamu tidak sedang berlomba. Kamu sedang tumbuh.

Dan pertumbuhan, tak pernah meminta untuk terburu-buru.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top