Tentang Hadir, dan Bunga yang Tak Berisik

Sumber foto: Pixabay

“Malam itu, Wijaya Kusuma mekar diam-diam di sudut sunyiku.
Tapi justru dalam diamnya, aku belajar untuk hadir sepenuhnya…”

Udara malam menyusup pelan ke rongga hidungku. Ada wangi yang tak biasa, begitu lembut dan halus, diam-diam mengendap di dada tanpa permisi. Aku tahu ini bukan wangi biasa, ada sesuatu yang ingin hadir. Dan di sudut sunyiku, aku melihatnya. Wijaya Kusuma mekar diam-diam, seolah tak ingin mengganggu ketenangan malam.

Sebagian orang percaya bahwa bunga ini membawa keberuntungan. Tapi malam itu, bagiku, Wijaya Kusuma justru membawa ketenangan. Rasa damai yang perlahan mengalir, dan tak ingin segera aku lepaskan. Di antara kesunyian dan nafas malam, hanya ada aku dan bunga-bunga itu, berbagi hening yang menenangkan. Mungkin ini juga sebuah keberuntungan: bisa menikmati malam yang tenang dalam diam yang damai. Ya… mereka benar. Wijaya Kusuma membawa keberuntungan, dalam bentuk ketenangan dan kedamaian malam.

Aku duduk memandangi kelopaknya yang perlahan terbuka. Putih bersih seakan tak terjamah dunia. Di tengahnya, putik dan serbuk sari menari lembut, seperti berpacu dengan waktu. Malam hampir usai, dan aku tahu, esok ia akan layu. Mekar hanya sesaat…tapi meninggalkan jejak yang lekat di hatiku.

Aku duduk memandangi kelopaknya yang perlahan terbuka. Putih bersih seakan tak terjamah dunia. Di tengahnya, putik dan serbuk sari menari lembut, seperti berpacu dengan waktu. Malam hampir usai, dan aku tahu, esok ia akan layu. Mekar hanya sesaat…tapi meninggalkan jejak yang lekat di hatiku.

Bunga ini seperti pesan yang datang diam-diam malam itu. Sebuah catatan malam dari aroma lembut Wijaya Kusuma. Tentang hidup, tentang waktu, dan tentang kehadiran. Tentang bagaimana menghargai setiap momen yang datang dalam hidupku. Tentang menikmati waktu yang diberikan semesta. Tentang belajar untuk lebih hadir, di saat ini, pada detik ini.

Bukan pada yang sudah lalu atau yang belum datang.

Karena yang lalu tak akan bisa aku ubah. Yang akan datang terlalu jauh untuk aku tebak, karena itu bukan kuasaku. Tapi malam ini… aku hadir . Sepenuhnya. Bersama bunga yang mekar sesaat, namun cukup mengingatkanku, bahwa yang singkat pun bisa memberi makna panjang.

Wijaya Kusuma dalam diam,

Catatan Rori di sudut sunyi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top