Langit Tempatmu Berlari, Hatiku Tempatmu Tinggal

Sumber foto: Pixabay

Ia mungkin tak bisa berkata, tapi setiap geraknya adalah bahasa dari ketulusan yang tak pernah diminta balas.

Kaki-kakinya bergerak lincah, ekornya berputar cepat—tak mampu menyembunyikan rasa gembira saat bertemu denganku. Sesekali ia menabrak tembok, seolah adrenalinnya berlari lebih dulu dari tubuhnya. Sungguh menggemaskan. Gonggongan nakalnya menggema, memecahkan keheningan rumah bercat biru langit, dengan pagar kayu yang berdiri diam seperti penjaga kecil rahasia kami. Tapi suara itu terasa hangat di dadaku, menyentuh hati, lalu menjalar lembut ke seluruh panca indraku. Aku pun tak keberatan menyambut Kaka kecil dalam pelukanku. Sesekali ia menjilati wajahku, telingaku, atau bagian mana pun yang bisa ia jangkau.

Tengil—itulah nama tengahnya. Sepertinya ia tak keberatan disebut begitu. Entah berapa pasang sandal dan sepatu yang dijadikan cemilan siangnya. Bukan hanya itu, pintu pun kadang ikut jadi korban keisengannya. Kadang aku memanggilnya kunyuk. Ia tetap menoleh, tanpa marah dan protes. Aku curiga, jangan-jangan nama lengkapnya adalah Kaka Tengil Kunyuk nan Bawel.

Yah, bawel! Ia akan terus mengoceh jika aku pulang terlalu larut—seperti emak-emak yang menceramahi anaknya karena pulang malam.

Malam itu, dari balik jendela, tampak sepasang mata menatapku. Bulu hitam kecokelatannya lumayan memuluskan misi penyamarannya di balik tirai. Tapi seperti biasa, ekornya menolak diajak kompromi—bergoyang pelan menyentuh tirai. Kentara sekali kalau ia sedang bersembunyi, seolah ingin memberiku kejutan.

Seakan berkata, “Welcome home…tapi kenapa kamu pulangnya telat?” —dengan nada tinggi.

“Kamu nggak tau jam berapa sekarang? Aku udah sangat lapar, tau..” katanya lagi, kali ini dengan nada menggumam. Tapi tetap, tone bawelnya gak pernah absen.

Semakin tahun, tingkat kepintarannya… kalau harus aku kategorikan— ya cukuplah. Tanpa panduan standar apa pun, ia sudah cukup pintar… sebagai anjing penjaga rumah.

Menggongong jika ada orang tak dikenal di depan pagar—checked. Tugas dasar keamanan rumah? Dijalankan dengan penuh semangat, meski kadang overacting.

Sigap jika ada yang masuk rumah tanpa permisi—termasuk kucing tetangga yang tergelincir dari tembok. Ia juga cekatan menangkap tikus, bahkan cerurut nakal, yang menyelinap masuk tanpa mengetuk pintu. Ada satu kebiasaan Kaka yang… entahlah, mungkin bisa aku kategorikan sebagai tukang pamer. Ini menyangkut urusan tikus. Kalau yang ditangkapnya berukuran besar, maka bangkainya akan diletakkan tepat di depan pintu rumah.

Surprise! Sambil nyengir, tentu saja.

Sementara buruan yang lebih kecil, cukup dibiarkan tergeletak di pekarangan. Begitulah Kaka—sungguh menikmati masa-masa mudanya.

Pada masa itu, kegiatanku sedang padat-padatnya. Aku juga tengah menikmati waktu berlari tanpa henti—pergi ke luar kota, perjalanan bisnis untuk kantor, atau sekedar hang out bersama teman-teman menghiasi kalenderku saat itu.

Beberapa kali, Kaka aku tinggalkan. Ia tetap menjaga rumah dengan antengnya. Atau mungkin… ia sempat protes, hanya saja diam. Menunggu.

Hingga aku kembali, dan ia menyambutku dengan kibasan ekor yang seakan berkata: “It’s ok…I’m Fine!”

Begitulah hubungan kami yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Kami saling diam, duduk dengan kesibukan masing-masing—aku dengan segala macam report-ku, Kaka dengan segala kekesalannya pada kutu-kutu yang mengganggu. Aku kerap berbicara dengannya. Aku tidak tahu apakah ia memahami apa yang kukatakan. Tapi kuanggap ia paham. Bagiku, ia adalah teman curhat yang bisa jaga rahasia.

Tidak ada nada protes dari matanya—hanya tatapan lembut. Ada momen ia benar-benar memperhatikanku, lalu daun telinganya bergerak-gerak seolah mencerna kalimat demi kalimat, kadang menggaruk sebentar, kemudian berpaling karena terganggu suara tukang mie tek-tek yang nyaring, dan kembali mendekatiku… seolah membujukku untuk melanjutkan ceritaku.

Sekian banyak cerita, berbagai kisah yang aku sampaikan dan ia saksikan, tak terasa Kaka sudah bersamaku lebih dari 15 tahun. Ia tidak lagi seceria dulu, tidak segirang saat ia masih remaja. Tubuhnya kini tertatih mendekatiku setiap kali aku membuka pintu dan meyapanya. Ia sudah sungguh ringkih.

Teriakan letihnya sering terdengar, kadang mengganggu tidur malamku. Suaranya seperti menahan lelah, bingung dengan segala rasa sakit yang mungkin tak bisa ia mengerti, apalagi sampaikan. Aku…juga lelah, dengan segala hal yang sedang aku jalani. Kadang kesal. Tapi lalu aku ingat kembali kenangan indah bersamanya—tawa, kebersamaan, hari-hari yang penuh kehangatan.  Kekesalanku pun perlahan memudar, berubah menjadi elusan pelan dan percakapan yang dalam, meski satu arah.

Aku berterima kasih atas semua yang ia sudah lakukan untukku—sahabat yang menemaniku dengan segala kekurangannya. Ia tetap berusaha hadir,  di tengah gangguan kecil di balik bulu-bulunya. Tak pernah ada dendam saat aku meninggalkannya terlalu lama. Hanya omelan kecil… yang kemudian berubah menjadi jilatan hangat di kakiku.

Terima kasih, Kaka. Untuk kesetiaanmu. Untuk penerimaanmu. Untuk persahabatan tanpa syarat.

Aku hanyalah manusia dengan segala keterbatasan, yang mencoba bertanggung jawab atas satu makhluk hidup dalam kehidupannya. Dan Kaka… menerimaku sepenuhnya. Sebagai sahabatnya.

Terima kasih atas segalanya. Aku tak bisa memberikan lebih, hanya ucapan terima kasih dan doa yang tulus. Sampai di akhir perjalanannya, sebuah penghormatan terakhir untuk sahabat berbuluku. Kini ia telah tenang, tidak lagi merintih. Penghormatan atas semua yang telah ia lakukan dalam hidupku—untuk tawa-tawa kecil, untuk cerita yang kami bagi, untuk tikus-tikus yang ia persembahkan di depan pintu rumahku, untuk segala warna yang pernah dilukiskan di hatiku.

Grief is just love with no place to go. But I believe love finds its way—through clouds, through time, until it reaches you.

Kini, saatnya dia kembali bermain bersama Chika, bersama Nelly teman kecilnya — atau mungkin sesekali mengunjungi rumah kakek, untuk mendengar omelannya lagi. Ya, di atas sana… berlarilah di atas awan, melompatlah, dan menggonggonglah seceria yang kamu mau. Kamu sudah bebas. Sampaikan salam rinduku pada semua. Untuk Kaka, sahabatku… terima kasih.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top