
Dua minggu berlalu sejak aku menamatkan buku mindfulness dari penulis favoritku. Entah kenapa, sepertinya memang aku memerlukan asupan semacam ini—untuk menenangkan kepalaku yang sudah kian sesak dengan hal-hal yang semakin hari kian membuatku ingin berlari menjauh. Aku bahkan sempat berpikir, mungkin aku kabur ke hutan, meditasi di dalam goa yang yang senyap. Tapi lalu terlintas bayangan ular yang iseng membelit pohon besar atau harimau yang absen warganya. Bahkan saat ingin menenangkan diri pun, pikiranku tetap saja sibuk, tidak sopan meloncat ke sana ke mari.
Pagi itu, aku menyiapkan sarapan yang sedikit mewah—versiku, niatnya ingin menghadiahi diri selepas perjuangan sengit di kantor kemarin.
“Brokoli Kukus spesial ala Rori dimasak pakai hati,” gumamku, sambil menambahkan kecap asin dan sedikit lada. Aroma brokoli yang kurindukan langsung menyapa hidungku. Tapi anehnya, justru aroma ini membawaku pada sebuah kenangan yang sebenarnya ingin kulupakan. Sayangnya, kenangan itu tak mau diusir. Semakin kucoba menepis, semakin kuat ia mendekap. Akupun meraih gadgetku, berusaha mengalihkan pikiranku ke sebuah distraksi instant—yang saat ini begitu mudah ditemukan, bahkan di meja makan.
Deretan video lucu, orang-orang berjoget, politisi yang berpidato, pesohor yang membongkar kisah cintanya, sampai tayangan orang makan dengan efek suara berlebihan—semua muncul silih berganti, seperti ritme yang sudah distradarai. Aku tahu ini bukan caraku mencari tenang. Tapi jari-jariku terus mengulik layar, seolah bergerak sendiri. Aku tidak tahu kenapa bisa sampai di sini, entah kenapa aku membiarkan diriku larut dalam pusaran konten-konten itu.
Sembari menyuap brokoli ke mulutku, aku sempat mengintip WhatsApp group kantor. Sebuah pesan dari bos: Meeting dengan direksi dimajukan. Sontak tanpa perlu aba-aba, pikiranku mulai menari-nari: teringat presentasi yang belum difinalisasi, data yang belum dilengkapi, belum latihan, belum lagi urusan dengan tukang pintu, belum ini, belum itu…To-do list terbayang mengular, arrgghhh…another disaster dan aku nyaris panik.
Pikiranku beradu dengan suara blender tetangga, deru kendaraan yang melintasi rumahku, dan rengekan anak kecil yang meminta uang jajan pada ayahnya—semua bersatu mendobrak benteng ketenanganku. Aku bahkan tak sadar kapan pertama kali menyuap brokoli ke mulutku—tepatnya, aku tak peduli. Rasanya hambar, dingin, dan ini menyebalkan. Tak peduli betapa brokoli ini sungguh menyehatkan untuk tubuhku, yang kuperlukan saat ini adalah segera menuntaskan kegiatan makan ini, berlalu dan menyelesaikan pekerjaanku.
Lalu entah kenapa, kalimat dari buku yang kubaca dua minggu lalu melintas: “Tenang…terima semua pengalaman apa adanya, hadirlah di saat ini…” Tenang, itu yang aku butuhkan. Tapi, bagaimana bisa tenang jika kepalaku riuh seperti pasar malam?
Aku menghela napas, menguatkan diri untuk lepas dari belenggu kekhawatiran pagi itu. Suapanku terhenti, bukan karena aku kenyang, melainkan ada yang berbeda kali ini. Rasa hambar kini mulai berpadu sempurna dengan rasa asin tipis yang perlahan muncul menyusup di lidah. Tekstur brokoli mulai aku rasakan. Perlahan, kuresapi kunyahanku. Brokoli ini…crunchy, lembut, dan sejuk. Mataku mulai menelusuri potongan-potongan sayur di piringku, warna hijaunya tampak agak kusam tapi tetap cantik.
“Bite me!” seolah dia menggoda. Aku kunyah perlahan, dan untuk pertama kalinya, brokoli terasa…hidup.
Potongan apel dan semangkapun, kurasa kembali hadir pagi itu, memberi kesegaran pada pikiranku. Untuk pertama kalinya pagi itu, aku benar-benar hadir.
Betapa aku telah melewatkan hal-hal remeh ini.
Aku tertawa kecil.
“Terima kasih, brokoli cantik,” gumamku. “Aku kira kamu cuma sayur biasa.”
Ternyata kamu bisa jadi pintu masuk untukku belajar memperlambat, menyadari apa yang masuk ke tubuhku, merasakan apa yang sedang terjadi dalam diriku. Kamu mengajarkanku untuk lebih sadar dengan setiap gerak tubuh dan rasa yang datang.
Hari itu, aku mulai menghargaimu lebih dari sebelumnya, bukan cuma karena kandungan gizimu, tapi karena kehadiranmu yang diam-diam mengubah caraku memandang hidup. Dan dengan itu, aku berjanji, mulai sekarang, aku akan makan dengan sadar. Mengunyah dengan penuh nikmat. Bukan hanya demi tubuhku, tapi juga demi jiwaku.
Demi keseimbangan rasa…yang seringkali hilang saat hidup terlalu ramai.
Brokoli, saranghaeyo!

