
Memahami Sebuah Perjalanan – Catatan Rori
Mataku tertuju pada putaran jarum jam dinding di pojok ruang baca rumahku. Jarum detik dan menit seolah berpacu, terus berputar tidak peduli seberapa keinginanku untuk menghentikannya. Seberapa sering aku berharap bisa menambah angka-angka di lintasan itu, agar waktu tidak cepat berlalu, karena masih banyak yang ingin aku selesaikan hari itu. Namun itu tak mungkin, jarum jam akan terus berputar, hari akan berganti, minggu akan berlalu dan tahun baru akan segera hadir di depan mata.
Begitu banyak hal-hal menarik terlintas dalam pikiranku, serasa aku bisa mengerjakan semua itu, tapi hingga kini, aku masih sibuk melompat-lompat mencari pijakan yang kokoh. Saat ini semuanya masih terasa rapuh — entah karena memang rapuh, atau karena aku belum mampu menyelami sepenuhnya. Sebuah peristiwa menyadarkanku akan kebodohan yang pernah aku lakukan. Aku ingin bangkit dari kubangan yang menahanku selama beberapa tahun terakhir. Memang, semesta tak pernah bisa ditebak. Ia sering menghadirkan hal-hal di luar skenario yang sudah kita susun rapi. Tapi apalah daya, kita hanya manusia, dengan segara kekurangan dan dosa — yang tak mampu berkutik ketika semesta mulai berbicara.
Aku terus berjalan, diiringi riuh pikiran yang berputar di kepalaku. Masih berharap angka-angka pada lintasan waktu bisa ditambah, atau setidaknya jarum penunjuk angka itu diperlambat lajunya.
Tapi, hey! Ternyata lintasan ini semakin menarik. Meski segala drama yang disuguhkan terasa melelahkan, tetap ada sesuatu yang membuatku terpesona. Sebagian jiwaku menikmatinya, sementara sebagian lagi menolak—bahkan membencinya. Dan anehnya, aku tak bisa memisahkan keduanya. Aku terus melangkah, memegang tali kendali, menyeimbangkan langkahku di tengah ketidakpastian ini.
Sejenak, langkahku terhenti. Aliran sungai di depanku membuatku terdiam. Mataku menikmati hijau pepohonan yang berdiri kokoh, memayungi air yang jernih, mengalir mengikuti lekuk sungai yang membawanya kelak ke muaranya.
Samar terdengar nyanyian burung yang tak henti memanggil pasangannya, bersahutan, menciptakan harmoni alam yang membiusku. Dalam lamunanku, aku bertanya pada diri sendiri, bukankah perjalanan ini menyerupai aliran air ini? Mengalir mengikuti lekuknya, terhempas untuk sesaat, namun kembali berjalan. Mengalir, beriringan dengan segala kerikil, menghadapi bongkahan batu, namun tetap melaju. Ada riuh kicau burung menyemangati alirannya, menabrak tebing kemudian kembali melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi menuju muara. Kadang lurus, terkadang berkelok, bahkan bercabang.
Senyumku aku berikan kepada sang sungai. Hari itu, aku mendapatkan sebuah jiwa yang kembali, sebuah pelajaran dari alam.
Air ini terus melaju meski terhalang, menemukan jalannya untuk terus bergerak. Begitu pula dengan kehidupan, penuh dengan perubahan dan tantangan, namun tidak pernah berhenti. “Tujuan hidup hendaknya mengarah pada sesuatu yang lebih besar,” bisik air padaku.
Kucelupkan tanganku ke dalam air yang jernih dihadapanku, merasakan alirannya yang memberi getaran tipis pada telapak tanganku.
Terima kasih… seorang Rori sedang memahami perjalanannya.
Akhir dari Penantian – Catatan Anjani
Sudut ruangan ini memberi rasa yang bercampur — mengharu biru, merona manja, dengan simpul senyum yang tak kunjung usai, air mata yang tertahan, dan gejolak amarah yang terpendam dalam kenangan yang tertinggal di sebuah meja. Semua bertemu malam itu, bertamu pada ruang hatiku yang enggan aku rapikan. Kubiarkan rasa itu mencabik-cabik, seakan monster yang menyerang dengan garangnya, kembali memporak porandakan pikiranku.
Ini sungguh aneh…
Kenapa aku menikmatinya?
Aku tak kuasa menghentikan kilasan kisah yang bermunculan. Ada sesuatu yang bergejolak dalam ruang perasaanku, sebuah keinginan untuk segera terbebas dari bayang-bayang masa laluku. Namun, ada sisi diriku yang ingin kembali menikmat romansa masa lalu itu, terbang ke ruang rindu yang tak pernah benar-benar bertemu.
Mataku tertuju pada sosok bayangan di depan pintu, aroma yang sangat aku kenal. Apakah ia akan datang malam ini, menemuiku? Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Merajuk, merayu, dan kami akan kembali bersama?
Sosok itu bukan dia… Aku mengalihkan tatapanku pada piano klasik di tengah ruangan. Namun pikiranku enggan untuk beralih, tetap terikat erat pada kisah romansa yang membuatku lelah tak mampu bergerak.
Waktu sungguh melambat.
Kuteguk red wine yang sudah hampir habis dalam genggamanku, tak terasa — hanya melewati tenggorokanku tanpa meninggalkan rasa nikmat di otakku. Ada apa denganku? Bukankah ini minuman kesukaanku?
Pikiranku kembali melayang, menyusuri ingatan tentang tatapan hangat yang dulu menyapa seluruh jiwaku, tangan kokoh yang menggenggam jemari lentikku. “Temani aku di sini,” katanya dengan senyuman. Di saat itu, aku hanya bisa tersenyum, terbuai alunan suara napas lelaki di hadapanku. Tak banyak kata terucap, hanya mata yang beradu dan tangan yang saling bertaut mesra.
Namun, di sudut lain, kulihat isak tangis seseorang—tersedu, mengungkap kenyataan pahit tentang hubungan yang kandas.
Hey… itu aku yang sedang menangis!
Ruangan ini menyimpan banyak cerita tentang diriku dan dia. CCTV yang merekam tawaku, sedihku, dan segala kisah yang kujalani bersamanya. Ingin aku bertemu dengan kepala keamanan dan memohon untuk menghapus semua rekaman tentang aku dan dia.
Malam itu, waktu berjalan begitu melambat. Malam enggan beranjak, memberiku ruang untuk lebih banyak terhanyut dalam kisahku.
Ini bukan pertama kalinya, dan sudah berulang kali, aku merasa benar-benar bodoh, kadang, aku ingin mempercepat sang waktu, ingin segera berlalu, tapi tetap saja, begitu berganti hari, berganti bulan dan tahun, bayangan itu tetap menggelayut, enggan melangkah pergi. Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan pada diriku. Kenapa masih berharap pada sebuah hubungan yang tidak akan pernah bisa berjalan, hubungan yang pernah menghempaskanku ke jurang kelam, memaksaku untuk tidak segera beranjak, karena sisa rasa manis itu masih ada, walau aku sadar rasa itu adalah hanya pelapis dari perih. Apa yang sudah aku lakukan pada diriku?
Kembali berbagai kisah berputar di kepalaku, membawa pikiran dan rasaku berjalan di setiap kota yang kami lalui bersama. Ini adalah rasa manis yang sebenarnya pahit. Ada sesuatu yang hangat mengalir perlahan di pipiku, bersamaan dengan denting piano yang mengalun dan tatapan tajam seseorang dibaliknya. Tatapan itu menusukku, menyadarkan aku dari sebuah pusaran kisah dan menyeretku kembali ke dunia nyata. Ternyata masih ada yang indah. Piano dan suara merdu itu mengajakku kembali ke kenyataan, kenyataan bahwa waktu akan terus berjalan tanpa peduli, seberapa pun aku terseok, dia tak akan berhenti. Aku mengingat kata-kata indah dalam lirik lagunya…
Mengapa kau masih di situ,
Terdiam menunduk, tak tentu arah langkahmu,
Liku yang kau lalui hanyalah sementara,
Di depan terbentang kisah yang tersembunyi,
Kenapa langkahmu kau hentikan? Hanya meratap, dan berharap dia kembali,
Di depan terbentang cerita yang bebas, kau lukis indah dengan penamu kini.
Kau lalui jalan berbatu, berkerikil, penuh pasir,
Hanya sementara, sejengkal telah usai,
Di depan terbentang cerita yang bebas, kau Lukis indah dengan penamu kini.
…
Denting piano mengalun merdu, suara sang penyanyi mengayun lirih, menggodaku untuk menatapnya lebih dalam, ada yang indah dalam tatapannya. Sebuah misteri baru yang ingin kuungkap.
Aku berhenti sejenak, merasakan sebuah perubahan yang perlahan mengisi ruang hatiku yang lama hampa. Ada sesuatu yang baru, sebuah gairah yang mulai tumbuh, meski kenangan lama masih datang mengingatkan. Aku tahu, langkahku kini lebih mantap, meski pelan, menuju sesuatu yang belum pernah kujalani.
Denting piano mengalun merdu, suara sang penyanyi membuai Anjani.
Sang Waktu
Pengamatanku dalam sebuah pagi, aroma segar tercium seiring mentari yang muncul dari balik tirai malamnya. Membuka celah bagi mereka yang ingin segera beranjak dari bunga tidur dan melanjutkan perjalanan kehidupan yang menarik. Sebagian melangkah dengan senyum, sebagian lagi dengan wajah murung tak menentu, merengkuh keinginan yang membelenggu langkah-langkah mereka.
Terdiam, berharap aku terhenti, dan berputar kembali. Tapi aku tak peduli — tak melambat, dan tak pula kupercepat.
Hari mulai lelah, aku tak mengenalnya. Aku melaju, mengganti terang menjadi gelap. Tak sepenuhnya gelap, ada bulan dan bintang penghias angkasa, berjanji untuk menjadi sahabat dalam pekatnya malam.
Segeralah menuju peraduan, jangan risaukan hal yang telah berlalu. Nantikan harimu berganti terang, mengantarkanmu pada segala impianmu.
Jangan terhenti, karena aku takkan diam menantimu. Jangan pula berharap aku berputar, aku hanya bisa melaju ke depan, apapun yang terjadi.

