Letakkan Ponselmu, Lepaskan Sandalmu, Temui Bumi

Sumber foto: Pixabay

Lepaskan sepatumu.
Biarkan pasir menyapa telapakmu.
Lalu dengarkan
—bumi sedang berbicara lewat ombak.

Alas kaki, kini bukan sekadar kebutuhan, ia sudah menjelma jadi bagian dari gaya hidup. Setiap hari kita mengenakannya: ke kantor, ke minimarket, bahkan untuk sekedar buang sampah dengan alasan kebersihan dan keamanan kaki, alas kaki selalu kita gunakan.

Di dunia yang serba cepat dan berdebu ini, sepatu dan kawan-kawannya adalah tameng paling setia, peneman kedua kaki manusia melangkah dalam berbagai situasi. Terlebih saat berolahraga. Sepasang alas kaki hadir dalam segala rupa dan ragam: sepatu futsal, voli, basket, sepak bola, sepatu katak untuk menyelam, sepatu lari jarak pendek, menengah… hingga sepatu lari dari kenyataan, jenis yang entah sejak kapan menjadi best seller.

Saat ini, kita hidup dalam dunia yang nyaris tak memberi celah bagi telapak kaki untuk menyentuh bumi. Kalau dipikir-pikir, memang begitu adanya. Setiap hari, setiap saat, kita menggunakan alas kaki. Rasanya, satu-satunya momen kita benar-benar bertelanjang kaki hanyalah saat mandi… atau mungkin saat merangkak di bawah meja, mencari colokan.

Tapi di balik semua jenis alas kaki—dari sneakers yang stylish, sepatu olahraga berteknologi canggih, boots, loafer bahkan sandal jepit, ternyata ada jarak yang diam-diam tercipta. Jarak antara tubuh dan tanah, antara kaki dan bumi. Kita begitu terbiasa menutup dan melindungi telapak kaki, seolah dunia ini terlalu kotor untuk disentuh. Padahal, bisa jadi justru di situlah letak kerinduan yang diam-diam terpendam… kerinduan yang sesekali muncul dan melintas di pikiranmu, tanpa benar-benar kamu pahami asalnya.

Sumber foto: Pixabay

Tiba-tiba kamu merasa kangen. Bukan pada belaian kekasihmu, tapi kamu kangen sama bumi. Pada dinginnya tanah yang menyapa telapak kaki. Pada sensasi rumput yang sedikit basah oleh embun pagi. Pada kenangan masa kecil—saat kamu berlari di lapangan hijau sepuas hati, berteriak lepas mengejar layangan, tertawa tanpa takut kotor, tanpa takut terluka.

Ada hari-hari saat kamu merasa penat dan buntu. Rasanya semua jus sehat dan potongan buah-buahan tak lagi menyegarkan seperti dulu. Yang kamu butuhkan bukan sesuatu yang segar di lidah dan tenggorokan, tapi yang menyentuh jiwa. Sesuatu yang lebih dalam.

Mungkin kamu bertanya-tanya, sesederhana itu kah? Cukup dengan melepas alas kaki dan menyentuh tanah tanpa perantara bisa meredakan rasa tidak nyaman dalam dirimu—dan membuatmu lebih tenang?

Ternyata iya. Dalam kesederhanaannya, kegiatan ini menyimpan banyak kebaikan yang sering terlupakan. Bahkan sains pun ikut berbicara soal manfaatnya.

Lalu, bagaimana cara kita mulai kembali terhubung dengan bumi?

Earthing: Cara Sederhana untuk Pulang ke Diri Sendiri

Earthing atau grounding adalah praktik sederhana: menyentuhkan tubuh—biasanya kaki— langsung ke permukaan bumi. Kegiatan ini bukan sekedar gaya hidup alami masa kini, tapi sudah terbukti secara ilmiah.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Environmental and Public Health (2012) menyebutkan bahwa earthing dapat membantu mengurangi peradangan, memperbaiki kualitas tidur, menyeimbangkan sistem saraf, hingga mempercepat pemulihan dari stress fisik maupun mental.

Tubuh manusia pada dasarnya bermuatan listrik. Begitu pula dengan bumi. Saat telapak kakimu bersentuhan langsung dengan tanah, terjadi transfer elektron bebas dari bumi ke tubuh. Proses ini membantu menetralkan radikal bebas dan stress oksidatif dalam tubuh.

Sederhananya, bumi memberi kita recharge alami.

Bertelanjang Kaki di Alam: Bukan Sekedar Estetika Instagram

Sekali-kali, coba ajak kakimu untuk melepaskan beban sepatu fancy-mu, dan berjalanlah di tempat-tempat ini:

1. Taman Kota

Kamu tidak perlu ke ujung pulau untuk merasakan pelukan bumi. Di taman kecil di sudut kota, tanah, rumput, dan tanaman masih bernapas—dan ingin menyambutmu. Jangan biarkan taman ini kesepian tanpa kehadiranmu. Sesekali, di pagi hari atau saat senggang di akhir pekan, kunjungilah taman itu. Berjalanlah perlahan mengelilinginya sambil menyapa sekelompok bunga yang sedang dikunjungi sepasang kupu-kupu—mereka tampak sungguh akrab.

Rasakan bagaimana telapak kakimu menyentuh rumput, tanganmu menyisir dedaunan yang masih sedikit basah oleh embun semalam.

Bumi punya cara yang ajaib untuk menenangkan tubuh dan pikiran. Kadang, kita hanya perlu meluangkan sedikit waktu bersamanya untuk kembali merasa utuh. Biarkan seluruh indramu sejenak larut dalam suasana hangat itu. Sungguh membahagiakan—bagai mendapat es cendol di siang bolong.

2. Hutan

Jangan langsung membayangkan hutan yang lebat , angker dan banyak penunggunya. Kamu bukan sedang uji nyali, kan? Kamu sedang mencari ketenangan, bukan ketegangan ala film thriller.

Bukan, bukan hutan yang itu.

Cukup ke hutan yang bersahabat, tempat pepohonan besar berdiri berdampingan dengan rukun, menaungi semak dan tanaman kecil di bawahnya. Ada aroma tanah basah, desir angin, dan suara-suara alam yang pelan-pelan mengajakmu kembali ke dalam diri.

Sungguh bahagia kamu bisa ikut merasakan teduh dan rindangnya mereka. Dalam heningnya, pohon tak pernah berkata-kata. Tapi tubuh kita tahu. Jantung kita merasakannya. Ada ketenangan yang menjalar dari akar, naik ke batang, dan menjangkau cabang-cabangnya, seolah menyentuh kita dengan bahasa yang tak terucap namun akrab.

Dalam sebuah penelitian dari HeartMath Insitute disebutkan bahwa jantung manusia memancarkan medan elektromagnetik yang bisa diukur hingga beberapa meter dari tubuh. Saat kita gelisah—ketika pikiran tak tenang atau perasaan tak berkecamuk di dalam diri, medan ini menjadi kacau, tak menentu. Tapi menariknya, ketika kita mendekat ke alam, terutama pohon, frekuensi ini perlahan kembali tenang, seimbang. Tanpa kita sadari, alam menerima apa yang ingin kita lepaskan. Ia menyerap ketegangan, bukan untuk menampungnya, melainkan untuk menetralkannya, mengubahnya kembali menjadi harmoni.

3. Pantai
Sumber foto: Pixabay

Garis pantai yang tenang adalah ruang terapi alami. Di sana, kamu bisa bercengkrama dengan ombak, bermain dengan lembutnya pasir yang juga diam-diam sangat merindukanmu. Lalu tanpa sadar, kamu mulai melepaskan apa yang tak lagi ingin dibawa. Bahkan Isak Dinesen, seorang penulis asal Denmark pernah bahwa laut adalah obat mujarab: The cure for anything is salt water — sweat, tears, or the sea.

Yang perlu kamu lakukan hanyalah berjalan menyusuri tepiannya—merasakan bulir-bulir pasir yang memijat halus telapak kakimu. Pijatan lembut dari alam yang menenangkanmu. Angin pantai pun menyetujui itu, ikut membelai wajahmu yang mulai tersenyum menyaksikan perjalanan hari yang perlahan memasuki senja, berwajah kuning tembaga. Semuanya menyatu, menjadi pelukan hangat dari bumi.

Hanya berjalan. Hanya hadir. Itu saja cukup.

Lihat, bagaimana alam sungguh baik padamu. Bagaimana kamu akan membalasnya?

Masih banyak yang bisa kamu lakukan untuk terhubung dengan alam, dengan bumi. Kalau kamu punya tempat atau ritual kecil untuk terhubung lagi dengan semesta, bagikan ceritamu di komentar.

Mungkin bisa jadi inspirasi bagi yang lain.

Menggali Hikmah dari Masa Lalu

Earthing menjadi semakin penting di masa kini, saat hiruk pikuk dunia tak lagi terbendung. Kamu memerlukan energi yang banyak untuk menghadapi arus tersebut, agar tidak terpelintir atau sempoyongan karenanya. Gagasan sederhana tentang bertelanjang kaki menyentuh tanah membuat pikiranmu berpetualang ke masa lalu, ke zaman ketika orang-orang terbiasa bertelanjang kaki sepanjang hari.

Mereka menyatu dengan tanah, terbiasa dengan energi alam yang mengalir dari bumi ke tubuh. Tanpa disadari, mereka menikmati manfaat yang kini dibuktikan oleh sains: tubuh yang lebih tahan terhadap penyakit, tidur yang lebih nyenyak, dan jiwa yang lebih tenang. Mereka mungkin tidak mengenal istilah earthing, tapi mereka melakukannya setiap hari, sepanjang hidup.

Kamu pun bisa kembali mencicipi sedikit kearifan lama itu, tanpa meminjam mesin waktu Doraemon. Cukup luangkan beberapa menit dalam sehari. Lepaskan alas kakimu. Berdirilah di halaman rumah jika ada area tanahnya, atau di rerumputan, bahkan di atas pasir.

Sumber foto: Pixabay

Pandanglah indahnya biru yang menjingga

Simpanlah gawaimu hirup dunia

Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada

Dengar alam bernyanyi …

Lagu Dengar Alam Bernyanyi dari Laleilmanino, Chicco Jerikho, HIVI!  & Sheila Dara Aisha menyadarkanmu bahwa yang kamu cari bukan solusi instan. Yang kamu cari adalah ruang untuk kembali.

Sebuah ruang di mana tubuhmu bisa bernapas tanpa paksaan, dan jiwamu bisa beristirahat sejenak dari kekacauan dunia saat ini.

Setidaknya itu yang ditawarkan oleh earthing, dalam diam, dalam kesederhanaan alam.

Tanpa notifikasi, tanpa suara-suara. Hanya bumi dan dirimu. Dan menariknya, kamu tak perlu melakukan banyak hal. Alam bekerja dalam diam. Saat kamu bertelanjang kaki, saat kamu memeluk pohon, saat tubuhmu menyentuh bumi, alam akan melakukan sisanya: memperbaiki, menyembuhkan, menciptakan harmoni.

Kita tidak pernah benar-benar jauh dari bumi. Tapi terlalu sering kita lupa menyapa, dengan dalih kesibukan, dengan segala embel-embel rutinitas. Mungkin, hidup terasa bising karena kita tak lagi terhubung dengan yang paling mendasar: tanah tempat kita berpijak.

Hari ini, beri waktu untuk bertelanjang kaki.

Temui bumi, rasakan debarannya. Dengarkan cerita sang pohon.

Karena mungkin, yang kamu butuhkan… sesederhana itu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top